Minggu, 29 November 2009

Yang Terasing, Yang Terlupa

Es beno (bangas bersorak)


(Foto saat membawa bantuan ke suku Asli di Desa Selat Akar, melintas sungai, tapi tetap tersemyum..daku yang jadi tukang foto saja bro..hehe)

Menyusuri pesisir Bengkalis, Kepulauan Meranti, Pelalawan, Indragiri Hilir (Inhil) sering kita temukan hunian-hunian sederhana di tepi laut. Bentuknya tak istimewa, terkadang jauh pula dengan hunian-hunian yang lain. Rumah-rumah itu seakan menyendiri, menyepi dari keramaian.


Begitulah kehidupan suku suku asli di daerah,  dan di Riau kebanyakan. Mereka menghuni pesisir-pesisir pulau, berkawan dengan tebing dan ombak. Serta bersahabat dengan dinginnya angin laut yang menusuk dan teriknya matahari jika memanas. Jika dilihat, mereka seakan hidup terbelakang, rumah rumah mereka hanya beratap daun rumbia dan berdinding kayu, tak ada ukiran-ukiuran. Rumah yang cukup untuk bernaung, berteduh dari panas dan untuk melelapkan mata jika mengantuk.

Di dalam rumah, semua peralatan untuk memburu sangat cukup, seperti jala, pancing, jerat, parang dan alat alat buru lain. Hidup mereka sederhana, tapi selalu bergumul dengan ritual ritual mistik, cara untuk bersetubuh dengan alam, mereka animisme.

Kalau di pesisir daerah Bengkalis dan Kepulauan Meranti, ada beberapa suku terkategori terasing seperti Suku Sakai, Suku Laut, Suku Akit, Suku Bonai, Suku Hutan. Keberadaan Suku Sakai berada banyak di daerah Mandau, sejak daerah ini sering dieksplorasi minyak dan gas, advokasi kehidupan suku terasing Sakai mulai mendapat perhatian serius. Mereka tidak lagi menjadi bagian yang terasing, sejak rumah rumah mereka dijarah dijadikan kawasan kawasan pertambangan minyak. Selalu mendapat bimbingan sehingga pola hidup mereka pun mulai berubah mengikut kultur modern. Anak anak Suku Sakai sudah banyak yang bersekolah, bahkan kehidupan mereka sudah terlihat sejahtera. Tapi masih tak lah semuanya, masih banyak kami temukan suku Sakai yang berada di pinggir pinggir hutan, menusup dalam rimba yang terasing.

Kalau suku akit, di Bengkalis juga cukup banyak. Mereka menetap di tepi tepi laut. Kehidupan mereka mencari ikan, menakik karet dan menebang sagu. Kebanyakan mereka juga sudah mulai tersentuh peradaban masa kini, terutama bagi yang mau berkembang, mereka juga berintraksi dengan suku suku lain. Tapi kedupan mereka masih sangat tradisionil, mereka sering memelihara anjing, babi dan binatang-binatang ternak lain. Rumah mereka sederhana, berdaun rumbia dan dari kayu seadanya. Mereka percaya pada tahyul dan benda benda keramat seperti pohon besar dan tempat-tempat untuk persajian.


Mereka  banyak yang tidak sekolah, terutama jika berada benar benar di tepi tepi laut yang jauh dari pemukiman. Hidup mereka hanya mencari ikan, kalau pun ada yang sekolah, kadang tak sampai selesai. Mereka banyak yang putus ditengah jalan, wajar itu terjadi, mereka tersisih dalam pergaulan. Sehingga mereka secara alami terseleksi oleh lingkungan itu sendiri, apalagi orang-orang laut ini kadang tidak bersih, mereka selalu disebut Orang Sampan atau Orang Tambus (bau dan kotor). Sebutan diskriminatif ini sering muncul.

Ada yang unik dengan suku Akit ini, dalam sebuah tulisan jurnalistik kak Evie R Syamsir, kak Evie ini sekarang Kepala kantor Perwakilan ANTARA, kantor berita nasional di Pekanbaru. Beliau ini senior lah, tulisan featurnya banyak kita temui. Beliau ini pun yang pernah menyusuri ceruk ceruk kampung, bahkan ceruk ceruk hutan dan pedalaman. Dalam tulisan "Bedak Limau" Penonak Bala Ala Suku Asli ia paparkan. Suku Akit ini punya kebiasaan ritual tiap tanggal 15. Ritual itu disebut bela (memelihara). Tiap tanggal 15 bulan. 15 bulan ini tentu menurut hitungan arab, sebab penanggalan Arab ditentukan dengan masa perputaran bulan mengelilingi bumi, mereka menggunakan penanggalan ini. Saat bulan ke 15 ini mereka melakukan ritual bela ini dengan membedaki badan dengan bedak limau. Bedak limau ini dipercaya untuk menolak balak, pada waktu itu mereka pun tidak dibenarkan utuk bekerja.



(foto saat membagi bagikan bantuan....gembira juga melihat warga bersuka cita dengan pemberian yang sederhana ini)

Jadi yang melakukan bedak limaiu itu laki-laki dan  perempuan, besar atau kecil, mereka membawa bedak limau ke sumur keramat dan mandi di situ. Bedak yang mereka gunakan terbuat dari beras, yang telah direndam beberapa hari yang kemudian ditumbuk jadi tepung, rasa bedak ini seperti bedak sejuk. Kemudian bedak ini ditambah limau, berupa irisan jeruk purut ataupun jeruk nipis yang dicampur air dari sumur keramat.

Sepertinya ritual semacam ini juga mentradisi di daerah lain, tapi waktunya berbeda, seperti di Kampar dan Pekanbaru, saat sehari memasuki bulan Ramdahan, yang istilahnya dengan subutan Mandi Beliamau. (Tradisi ini setiap tahun ramai, kalau waktu waktu Belimau, Jalan Pekanbaru_Kampar bisa macet total. Ini semacam wisata baru, tradisi yang dipakai pun sudah mengalami pergeseran).

Buang sial ini, kata penduduk kampung, tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keselamatan satu kampung. Biasanya sumur yang digunakan tidak sembarangan, sumur sumur tua ini pun selalu mereka keramatkan, jika waktu waktu tertentu, mereka memiliki hajat sesuatu, mereka pun memohon dengan sumur itu, mereka letakkan sesajian, membawa berbagai bentuk juadah seperti buah-buahan ataupun kue wajit dan apam yang ditempatkan di bawah pohon.

Tidak hanya itu, suku yang disebut juga suku Asli ini juga mempunyai hari perayaan besar. Tiap tanggal 27 bulan Ramadhan, setahun sekali mereka melakukan kenduri arwah, mereka menyebut dengan malam tujuh likur atau malam ke-27. Jadi saat perayaan ini berlangsung, samalah dengan suku Melayu lain mereka memasang colok (lampu pelita) di setiap rumah mereka. Penerangan lampu colok itu menghiasi kampung hingga malam takbiran.

Mereka percaya, saat malam ke-27 itu merupakan saat melaksanakan ritual memberi makan arwah. Setiap rumah penduduk pada malam di penghujung bulan tersebut menggelar kenduri dan halaman rumah mereka diterangi dengan colok. Mereka memasak makanan yang sedap pakai rempah. Semakin bau wangi masakan, merupakan pertanda bahwa niat baik kami terhadap arwah nenek moyang direstui.

Suku Asli di Bengkalis masih banyak, suku ini juga bermukim di daerah Pulau Padang, Dedap, Kudap, Bandul, Selat Akar dan daerah daerah pesisir Kepulauan Meranti. Saat Lebaran lalu kami sempatkan berkunjung salah satu pemukiman suku Asli di Desa Selat Akar, Kecamatan Merbau, Kepulauan Meranti, bersama paman ku, Taslim Prawira serta Abdul Haris. Paman Taslim, memang aktivis sosial, ia sebagai perantara melakukan pendampingan di suku suku terasing. Yang selalu disana Abdul Haris, guru Bahasa Inggris. Dialah yang melakukan pendampingan. Pendampingan ini memang belum optimal, tapi langkah sederhana yang mereka lakukan sudah tepat, sehingga saat saat tertentu, jika terjadi sesuatu peran pendamping ini sangat dibutuhkan, meskipun apa yang dilakukan pendamping ini secara perlahan lahan.


    (anak anak Asli,,mereka lugu dan polos)

Pada saat Raya Idul Fitri kemarin, kami sempat menyalurkan bantuan kapada beberapa warga. Bantuan yang kami berikan berasal dari Rumah Zakat Indonesia (RZI), bantuan berupa baju baju layak pakai dan Alqur’an. Maklum orang orang suku Asli ini sebagain baru memeluk Islam. Jumlahnya ada puluhan. Kami disambut Kepala Desa Selat Akar, Kadi dan Imam Mushalla setempat, dan warga tentunya. Menuju Desa ini tak terlalu jauh dari kampung, kami melintas Sungai, pakai sampan lalu menempuh setengah kilo perjalanan.

Saat sampai, hatinya terhenyuh, sebab anak-anak suku Asli yang lain berkerumun menonton kami, sementara bantuan yang kami berikan tidak begitu banyak, itu pun untuk suku Asli yang baru muslim, sementara mereka juga saya rasa sangat membutuhkan. Mereka datang dalam keadaan sangat lecun, seperti yang disebutkan tadi, (Maaf terlihat jorok dan berbau)...betul-betul rasa simpati menyentuh, kulitnya hitam, bertelanjang badan dan banyak yang berjalan tanpa alas kaki.

Saat itu, sedikit kabar menyenangkan dari Kepala Desa Selat Akar, Pak Amir. Ia menyebutkan sebentar lagi kampung ini dapat bantuan rumah untuk warga pra sejahtera. Sebagian ia janjikan untuk orang-orang suku terasing ini. Aku pun tak merinci untuk siapa siapa saja rumah itu, tapi memang mestinya orang-orang suku terasing inilah yang harus dapat prioritas, apapun agama mereka saat ini.

Oh ya balik ke cerita suku suku terasing di Riau. Masih banyak kondisi suku suku terasing yang belum diperhatikan. Kalau di Inhil yang terkenal dengan suku Duano, mereka juga menetap di laut, rumah mereka berada diatas pantai, bersambung sambung dengan rumah yang lain. Tepatnya seperti kampung Nelayan. Orang Suku Duano terkenal dengan tradisi Menongkah, menongkah ini yakni cara menangkap kerang. Menangkap kerap dihamparan pantai yang penuh lumpur dengan alas kayu. Tangkapan kerang suku Duano terkenal. Bahkan pernah pulak saya sampai ke Guntung, daerah paling Selatan Inhil, kawasan yang memikat juga, disini banyak juga kerang dan ikan ikan tangkap dari laut, kalau kerang yang terenal, dengan kualitas kerang yang berisi ya kerang dari tangkapan Duano ini.

Di tempat lain,, suku Asli yang masih dilupakan adalah suku Talang, berada di ceruk ceruk hutan. Banyak ditemui di Indragiri Hulu (Inhu) berada diperbatasan Jambi yang menyusur di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT). Alhamdulillah beberapa kali ekpedisi saya dibawa kesini. Suku Talang Mamak yang terkenal, dan suku suku Talang lain kabarnya juga ada. Mereka hidup seakan sudah bersetubuh dengan alam, mereka ini pun punya tradisi yang unik, misalkan dalam waktu waktu tertentu (maaf saya lupa nama ritualnya) semacam musim kawin, mereka membolehkan anak anak lajang mereka berkumpul sesama memilih pasanganya, setelah sesuai baru melakukan akad perkawinan. Ritual perkawinan juga mengunakan kadi dan saksi, mereka animisme kepercayaanya  bercampur campur.

Tentu saja tak semuanya yang masih seperti ini, yang berada di daerah luar, yang sudah bersentuhan dengan suku suku lain. Kehidupan mereka berubah, mereka ada yang sekolah, tapi bagi yang jauh, tentu banyak yang belum menikmati pendidikan. Guru dan sekolah sekolah mereka masih sangat terbatas, tak semua guru yang mau mengajar di tempat tempat pedalaman. Berinteraksi dengan suku-suku langka yang penuh kesabaran, dan mungkin harus dilakukan dengan dedikasi yang utuh, sebab tak mungkin mereka bisa mendapatkan balasan materil yang cukup saat mengajarkan orang orang yang masih terasing ini.


Butuh kebijaksanaan yang dingin menjadikan mereka bagian kita

Sekarang mereka hidup dengan tradisinya sendiri, tak ada yang salah dengan kehidupan mereka. Bahkan tradisi dan ritual yang mereka lakukan lebih kuat dan mengakar ketimbang kita yang sudah dibimbing dengan berbagai pandangan hidup yang lebih modern. Mereka malah banyak yang menyikapi hidup dengan arif, membuat larangan-larangan tertentu karena memang ada kaitanya dengan sensifitas alam yang bisa menyebabkan kerusakan kerusaka. Naluri mereka tentang hidup dan selera alam sangat kuat, ia merasakan seakan alam bisa diajak bicara,  misalkan dari tanda-tanda alam itu sendiri, dari -bunyi bunyian burung, atau kayu sekalipun.

Cuman yang harus kita lakukan adalah membimbing mereka, dan tidak membiarkan mereka menjadi terasing disudut sudut pulau, atau dihimpitan hutan yang luasnya makin mengeciil. Mereka harus dibekali tulis baca untuk menghadapi persaingan dengan yang lain. Kita tidak menginginkan dan membiarkan mereka terbelakang.

Alamdulillah, setiap tahun alokasi angaran untuk membangun suku terasing makin banyak. Cuman kalau muncul pertanyaan, apakah anggarann yang besar itu sudah sampai semua kepada mereka, ini yang harus sama sama kita waspadai. Jangan sampai pula karena mereka terbelakang, mereka hanya dijadikan bagian untuk ekspoitasi program saja, realisasinya nihil.

Tahun ini alokasi dana APBN untuk dekonsentrasi Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Riau meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2007 anggaran pemerintah mencapai Rp 2,7 miliar, 2008 mencapai 2,3 miliar dan 2009 ini naik menjadi Rp 2,8 miliar lebih. Anggaran tersebut akan dipergunakan untuk pemberdayaan KAT seperti sertifikasi lahan, pembangunan ramah, pembuatan sarana air bersih dan beberapa kegiatan pembangunan lain.

Asisten III Bidang Administrasi Umum Pemerintahan Riau Ramli Walid mengatakan, untuk mewujudkan pemberdayaan KAT ini, peran daerah sangat menentukan karena proporsi pengaturan KAT ini juga lebih besar. Ini sesuai kewenangan sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan PP No. 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten dan Kota.

"Pemerintah pusat di sini hanya memberikan fasilitas dukungan anggaran untuk memberdayakan. Melalui program dekonsentrasi 2009," kata Ramli.

Ramli menyebutkan, anggaran KAT untuk Riau ini merupakan anggaran yang terbesar dibandingkan dengan beberapa provinsi lain. Dana tersebut akan diperuntukkan bagi pembangunan di 68 Desa dan 31 Kecamatan di enam kabupaten di Riau yakni Bengkalis, Indragiri Hulu (Inhu), Indragiri Hilir (Inhil), Rokan Hulu (Rohul), Pelalawan dan Siak.

"Dana KAT ini untuk pemberdayaan suku pedalaman seperti suku Sakai di Bengkalis dan Siak. Suku Akitdi Bengkalis dan Pelalawan, suku Bonai di Rohul, Suku Talang Mamak di Inhu dan Suku Laut atau Duano berada di Inhil," ujarnya.

Untuk itu, tambahnya lagi, dana KAT yang cukup tinggi ini selayaknya terealisasi secara optimal. Sehingga kualitas hidup dan kesejahteraan masyakarat KAT saban tahun berubah menjadi meningkat. "Kita ingin meningkatkan taraf kesejahteraan sosial mereka dengan tetap memelihara sosial budaya, kearifan lokal dan mengatasi keterpencilan secara geografis. Misalnya dengan memberikan bantuan perumahan, jaminan hidup, peralatan kerja dan bantuan usaha. Biasanya bantuan ini kita berikan tiga tahap.

Kepala Dinas Sosial Riau Raja Lukman Mat juga mengatakan, jumlah populasi KAT di Riau masih banyak. Sehingga komunitas yang tersisa tersebut perlu diberdayakan dan ditingkatkan taraf hidupnya. Tahun 2009, dari sekitar 11.988 populasi KAT di Riau yang belum diberdayakan sebanyak 8.719 populasi.

Di Kabupaten Bengkalis jumlah KAT mencapai 5.516 populasi yang belum diberdayakan sebanyak 3.891, di Indragiri Hulu (Inhu) jumlah KAT mencapai 3.165 dan yang belum diberdayakan sebanyak 2.465 orang, di Indragiri Hilir (Inhil) sebanyak 952 dan belum diberdayakan 471 populasi, di Rokan Hulu (Rohul) mencapai 1.916 populasi yang belum diberdayakan 1.549 populasi, di Pelalawan mencapai 324 populasi yang belum diberdayakan mencapai 247 populasi, dan Siak sebanyak 125 populasi yang akan diberdayakan tinggal 69 populasi.

"Yang menjadi permasalahan saat ini masih rendahnya pemahaman aparat daerah tentang program KAT. Sehingga program pemberdayaan cendrung tidak sesui yang diharapkan. Selain itu SDM pendamping orang lokal sulit dicari karena umumnya warga KAT berpendidikan rendah," kata Lukman Mat.

Setelah didukung program pemerintah, tentu kita mengharapkan mereka mendapat perhatian serius. Kalau saja masih banyak penyelewengan program itu, itu merupakan tanggung jawab pemerintah dan tentu saja  anggota dewan yang terpilih, mereka bertugas untuk mengawasi program program itu..(*)
Selengkapnya -

Kamis, 19 November 2009

Tak kan Melayu “Membeku di Musium dan Ruang Arsip”


Es beno (bangas bersorak)


Riuh randah suara seremoni anugerah budaya, helat anugerah sagang tahun ini, membahana di ruang persegi hotel ternama di Pekanbaru. Nun disekitarnya, jejak-jejak budaya melepas dan terburai. Sedikit jejak itu terus digali, dicari tahu untuk penyokong jati diri.


Padahal ini tanah Melayu, tanah yang pada zamanya menelurkan sebongkah emas penyemai persebatian, menjadi lingua frangka saat berdagang, bersapa dan bermasyarakat, menggelinding menjadi sumbangan bahasa nasional Indonesia. Semua tahu, bangsa ini menaruh hati untuk ikhlas menggunakan bahasa Melayu menjadi cikal bakal bahasa Indonesia. Bahasa yang tumbuh dan berkembang di bawah dera dan tempaan kultur Melayu yang besar dan hidup di tengah masyarakat Riau. Tapi Melayu dengan tamaddun dan kejayaannya itu tidak semuanya tercerabut dalam kubangan yang dalam, bahkan masih dirasakan membeku dalam ruang-ruang kaku yang sepi.

“Persoalannya sekarang, warisan masa lalu yang inspiratif itu kini banyak yang membeku. Membeku di ruang-ruang arsip perpustakaan, museum dan tempat-tempat lain,”kata Ketua Dewan Pendiri Yayasan Sagang H Rida K Liamsi, menyampaikan kegusarannya, saat memberikan anugerah sagang.

Kata-kata itu mengguratkan risau yang menghantuk hantuk relung hati paling dalam, membongkah nasib negeri dengan budayanya yang mencangkung kesepian. Membawa diri untuk segera berubah menjadi pungguk yang membawa kedalam mimpi idaman, menasbihkan melayu menjadi tamaddun negeri yang lebih cemerlang.

Alhamdulillah, selama 14 tahun perjalanan, pemberian anugerah itu memberikan semangat bahwa budaya mampu berkukuh mengembangkan budaya. Di sini muncullah tekad untuk mencairkan kebekuan itu. Ini semacam pemakzulan, dari kata “sagang’ yang memiliki makna harfiah sebagai “penopang”.

Berawal dari asal kata, mungkin saja tak biasa mengetahui makna Sagang, kata ini merupakan Alkais yang sulit ditemukan dalam kamus Bahasa Indonesia. Mungkin juga agak langka dalam percakapan sehari-hari. Kata ini hanya dikenal masyarakat Melayu Riau di kawasan pesisir, dikenal para dengan nama sepotong kayu kecil yang digunakan penyangga bumbungan rumah di kawasan pantai. Kayu kecil itu dipasang melintang diagonal pada bentangan atap rumah. Gunanya untuk menjaga keseimbangan bila terjadi terpaan angin ribut. Masyarakat nelayan biasa menyebutnya sagang barat, karena kayu kecil itu sangat berjasa dalam meredam guncangan angin barat yang turun bagaikan ribut di kawasan pantai.

Di perahu-perahu nelayan pun, kayu kecil ini dipakai sebagai penyangga atau penyokong yang dipasang diagonal pada bentangan layar, untuk menjaga bentangan layar agar senantiasa terbuka dalam menerima tiupan angin, agar perahu melaju dan tetap kencang. Filosofinya, sagang merupakan simbol dari semangat untuk menjadi penyangga yang mendorong dan menggerakkan kreativitas budaya Melayu. Sagang adalah simbol dari semangat yang tak kenal menyerah, semangat yang tak pernah gentar, betapa pun hebat tantangan yang dihadapi.

Tahun ini harapan itu muncul dan terus bergulir, mengharapkan ia tak hanya menopang dari deraan angin badai baik di rumah atau di laut, tapi menjadi kayu untuk menabuh bunyi-buyian, menyeruak dan ramai..harapan ini bisa dilakukan, bila ada beragam tangan kreatif pula yang memanfaatkanya, menggunakannya dengan benar dan membuatnya menjadi benteng baru sebuah peradaban. (*) (ditulis dengan banyak menyadur informasi dari tulisan tentang sagang)
Selengkapnya -

Minggu, 15 November 2009

Kampung Persinggahan itu Namanya Bandul


(foto bawah: ini gambo pasar Bandul,,samping samping samelah dengan daerah lain rulet (rumah toko dan sarang walet..foto tengah:
Es beno (bangas bersorak)



Kampung Bandol, bukanlah kampong yang baru, kampung ini termasuk kampung lame. Konon sejak zaman kerajaan Siak, daerah ini sudah menjadi salah satu tempat persinggahan raja Siak Sri Indrapura. Di sinilah muncul sebutan nama Bandul, yang berawal dari sebutan nama sebuah pokok yang satu satunya di desa ini. Memang tak ada sejarah yang pasti, tapi hikayat ini ditasbihkan dalam beberapa tugas akhir skripsi anak-anak Bandul. (Boleh ditengok nukilan kisah ini di sekripsi Mizan Fathoni, Taslim Prawira dan Ali, Sag)




Terlepas dari itu, kampung ini ternyata menyimpan sejarah panjang dalam masa masa perjuangan. Memang kalau terlihat dalam letak kampung, posisi kampung sangat strategis, berada di ujung Pulau Padang serta persis behadapan dengan Pulau Bengkalis. Setelah membalah selat ini bertembung lah denga laut luas Malaka. Di sinilah sejak Dulu Bandul menjadi tempat lintasan perlayaran sampai saat ini.

Kampung ini pun terkenal menjadi persinggahan para pelaut baik dari wilayah timur maupun barat . Masa masa kejayaan kampung tarsito ini di rasakan sampai sekitar tahun 50-an sampai 70 an. Konon perahu - perahu bugis yang berlayar sering membawa bermacam - macam perabot seperti guci ,kendi dan pasu (tempat beras). Orang orang kampung sini makanya tak aing dengan bende-bende mewah produk luar. Bahkan kononnya kampung ini paling ramai masa masa itu. (Tulisan ini dinukilkan dari tulisan salah satu anak Bandul, Taslim dalam Face book, Darul Huda Bandul Meranti).

Kisah yang menguatkan Bandul sebagai kawasan strategis tampak pada masa penjajahan. Memang pusat penjajahan kala itu yang paling dekat adalah di Bengkalis, sebagai wilayah kerisedenan kawasan Sumatera Timur. Tapi kalau menilik hal ini, disepanjang daerah pesisir pulau Bengkalis dan Pulau Padang, satu satunya daerah yang dijadikan salah satu markas penjajah adalah Bandul. Di kampung ini dahulu ada markas Belanda yang disebut dengan bom. Tapi bangunannya sudah hancur, tapi masa tahun 60-an dibuat bangunan pegganti oleh pemerintah yang sampai sekarang bangunan-bangunan tua ini masih ada.



ini foto paman Taslim dan anak-anak dekat rumah bom..bangunan tue yang ku ceritekan tadi..



Kalau melihat bentuk bangunannya sama arsitekturnya dengan bentuk bangunan Eropa. Ini dijadikan sebagai tempat penginapan dan juga rumah singgah bagi pelayan negara yang bertugas di daerah ini. Bahkan, Bandul sejak dulu sudah berdiri sekolah, yang terkenal dan alumninya mungkin sampai saat ini masih banyak. Yakni Sekolah Rakyat (SR) dan katanya Mulo yang setinggkat SLTP. Kedua dua sekolah ini sudah hancur, tapi masa masa tahun 90-an di Bandul sekolah ini masih ada. Tentu saja anak anak seumur aku masih ingat bentuk sekolah ini macam apa. Sekolahnya besar, berbentuk panggung. Tapi terbuat dari papan. Sekolah ini waktu masa masa kami kecik dulu banyak misteri, maklum waktu itu umur sekolah juga sudah uzur. Kabarnya Jepang juga pernah mendarat di Desa ini.

Sampai sekarang, kawasan ini masih menjadi daerah transito yang strategis. Kapal kapal besar yang melintas menuju Dumai dan Bengkalis pasti melintasi tempat ini. Begitu juga sebaliknya yang menuju Selatpanjang dan Batam. Bahkan sekarang ini, sejak jalur darat mulai bagus, Bandul menjadi daerah transit dari Belitung Bengkalis atau sebaliknya. Apalagi sekarang sedang dilanjutkan pembangunan jembatan penghubung antara Bandul dan Selat Akar (daerah ini menjadi kunci untuk penghubung antara Pulau Padang dan kecamatan Merbau, Belitung). Kalau jembatan ini jadi, dan jika pemerintah kabupaten Kepulauan Meranti melanjutkan dengan pembuatan jembatan roll-on roll of (Roro) Pulau Padang-Bengkalis. Maka tidak mustahil daerah ini akan maju pesat dan menjadi ikon baru untuk pertumbuhan ekonomi kawasan pesisir.

Pasalnya Belitung sendiri sejak lama menjadi daerah eksplorasi Migas yang saat ini dikelola PT Medco Indonesia. Sedangkan daerah sekitarnya merupakan kawasan perkebunan rakyat yang luas, sampai ke desa Selat Akar, ratusan ribu kebun karet dan sagu, selain itu hutannya yang masih luas. Tak hanya itu Bandul, apalagi Selat Akar yang terkenal di Desa Kuala menjadi sentra perikanan tangkap. Kalau mau hanya sekedar mencari belacan atau udang kering (ebi) di daerah Kuala ini, kata orang kampung jangan rhisau, sebab barang tu beleak (eh salah cakap, bahasa Minang pulak terbawak).

Kalau lah ada cetak biru atau kate orang blue print pembangunan kawasan pesisir, saya rasa daerah ini potensial dikembangkan. Banyak potensi potensi yang melekat seperti hasil hutan, sagu, karet, ikan tangkap, sekarang ini yang muncul jadi bisnis menjanjikan juga walet. (Tapi yang terakhir ini beresiko, sebab jika kawasan ini padat, serta merta bukan tidak mungkin ketika walet ini ada terserang virus, bisa dengan cepat menjadi punca penyakit).

Selama ini potensi yang ada tidak menjadi ikon kuat untuk mendukung ekonomi. Ini terlihat dari kaca mata perkembangan bisnis dan usaha yang dijalankan. Kecuali Walet lah, yang berkembang begitu pesat, sampai sampai kampung ini ramai karena walet walet ini. Tapi untuk usaha masyarakat seperti sagu dan karet, hanya sekedar penopang hidup. Soale karet yang ada tidak dilakukan dengan sistem budidaya yang tepat. Pembibitan karet juga banyak yang dari sistem tradisional, sehingga meskipun luasnya banyak tapi hasilnya tidak maksimal. Kalau kita mau belajar dari provinsi tetangga, yakni Sumatera Utara (Sumut). Industri perkebunanya sudah sangat kuat, tapi ini sudah didukung sejak zaman kolonial. Bahkan di Medan sejak tahun 1800-an. Sudah ada pusat penelitian perkebunan, makanya Sumut menjadi daerah maju. Mungkin kalau balek kampung, masyarakat merasa tidak puas karena hanya bertumpu dengan kebun karet, alasanya karet tidak menjanjikan. Padahal, sejak menteri pertanian dijabat Anton Apriantono, ia merekomendasikan untuk merevitasasi perkebunan salah satunya karet karena memprediksi komoditas yang satu ini merupakan yang paling prospek.

Alasanya sederhana, dengan kemajuan industri, kebutuhan karet juga semakin banyak. Memang karet ini berasal dari Brazil, tapi sampai saat ini pensuplai komoditas karet di Dunia terbesar dari Asia Tenggara (Asteng) , yakni Indonesia, Malaysia, Filiphina dan Thailand. Memang pula harga karet sangat fluktuatif dan sensisitif. Kalau Industri lumpuh, harga karet seperti kejadian sejak Juli 2008 lalu, harga karet pun jemblok.

dan gambo atas: ini jembatan Bandul Selatakar)



Tapi komoditas ini tetap dibutuhkan, sekarang saja harga karet terus beranjak naik. Bahkan di beberapa pabrik ternama di Riau, kalau di Riau ada empat parik ternama yakni PT PT Ricry Pekanbaru, PT P&P Bangkinang, PT Tirta Sari Surya dan PT Andalas Agrolestari harga bahan olahan karet (bokar) dah sampai Rp 19 ribu per kilo gram. Terbukti kan prediksi pak Anton.

Lewat tulisan ini... (Maaf sikit ye, kalau dah becakap memang panjang, mungkin ini agak melenceng dari kisah Bandul sebagai kawasan transito, tapi tak apelah bile lagi nak becakap puas macam ini, kalau tak disampaikan buah pikiran ini sakit kepale pulak)....... Saya nak berpesan, sekarang ini kan kebun kebun karet di Bandul dan sekitarnya kan dah tue. Karena diprediksikan umurnye pun dah ratusan bahkan puluhan tahun. Kalau melihat refensi budidaya keret. Ini tak layak lagi untuk dilakukan, sebab lateknya tak maksimal, jadi banyak bekerja tapi hasilnya sikit (tentu ini kate orang sekarang yang disebut dengan kata tidak ekonomis).

Makanya kalau nak merubah aset kebun karet menjadi menopang ekonomi yang kuat, saya rasa sangat bisa dilakukan. PT Good Year, salah satu produsen pembuat ban ternama di dunia, berpusat di Inggris, tapi banyak kebunnya di Indonesia, salah satunya di Medan. Katanya... (ini dari cerita-cerita kawan juga, waktu lama di Medan ) bisa menggaji buruh lepas kebunya sampai jutaaan. Kalau analisa saya sangat bisa, asalkan ilmu budidayanya sangat tepat. Beberapa teori ada yang mengatakan, maksimal hasil penyadapan karet bisa sampai 1500 kg/ hakter. Alias 1,5 ton per haktere. Kalau di kampung, jangankan sampai 1000 kg, nak sampai 20 kg aje dah semaput. Ape pasal, sebab karet yang ditanam tak bisa menghasilkan maksimal. Ini karena banyak faktor selain umur juga kualitas bibit yang tidak jelas.
Kalau mau dirubah dengan target saja bisa menghasilkan maksimal. Dengan strategi budidaya, perawatan sampai penangganan sangat panen (penyadapan) optimal. Hasil latek maksimal bisa mnecapai antara 500 kg- 2000 (2 ton kg). Dalam budidaya karet, maksimal kan umurnya sampai 30 tahun. Kalau saat perdana bisa umur sekitar 6 tahun sudah bisa diperkirakan menghasilkan latek sampai 500, hasil optimal itu diperkirakan umur 12-18 tahun. Kita kali kan saja, kalau minimal tiap hektare mampu produksi 500 kg, kali kan harga terendah kemaren tu sampai Rp 2000. Hasilnya bisa sampai Rp1 juta per hakter, sekali panen. Ingat masa panen bukan sebulan sekali. Optimal 3-4 hari sekali. Artinya setiap bulan 7-8 kali. Hasilnya sebulan bisa mencapoai Rp 8 juta per bulan. (Mak mak.. ini mungkin same gaji manager aku dikantor lah..itu pun dah bertungkus lumus berkarir bertahun tahun, belum lagi masuk modal kuliah..itu lame dan makan pemikiran lah..aku rasekan sangat..). Kalau estimasi tadi kita rubah dengan kondisi optimal katakanlah bisa capai 1 ton per haktare, plus dengan asumsi harga karet saat ini sekitar Rp 19 ribu di pabrik maka penghasilannya bisa mencapai Rp 19 juta...sekali panen...
Ini belum termasuk jika melakukan budidaya sagu secara maksimal. Baik budidaya maupun samai industri hilir. Sebab kebutuhan sagu ini bisa dijadikan pendukung industri makanan di Indonesia. Apalagi Indonesia terkenal sebagai pengimpor gandum tebesar. Kalau pati dari sagu ini dimaksimalkan sebagai subtitusi alternatif pengganti gandum dan dijadikan industri besar, saya rasa kemakmuran akan berpihak kepada masyarakat. Ini celoteh biasa, sebab riset-riset subtitusi tepung sagu untuk terigu begitu populer, patinya melimpah jauh lebih besar kapasitas produksinya dari gandum sebagai tanaman penghasil terigu. Cuman memang tidak bisa seratus persen, sebab gandum satu satunya tanaman yang memiliki glutein. Ini yang membuat tepung gandum disukai. Tapi kualitas tepung sagu sedikit hampir menyamai gandum. Belum lagi tanaman ini kaya juga dengan ethanol. Bahan kimia untuk makanan, kosmetik dan pembangkit energi. Jadi sangat sangat potensial. (kami becakap sambil neking ni, geram!!! Sebab ngape sampai sekarang tak pulak dilirik same pemerintah...heran..).
Balek lagi ke cerita kampung tadi, kalau betul pemerintahnya cekatan. Saatnya membuat basis ekonomi yang kuat di Bandul. Dulu, waktu aku baru semester ...baru,, memang ade proyek reboisasi karet di Bandul..tapi dari bibit sampai pupuk lesap entah kemane..Hibah macam inilah buat kacau..kalau nak maju maunya maju bersama..tak akan ada yang korupsi, nyekik bukan hak..
Ada banyak kawasan yang sudah sadar dengan merubah pola budidaya karet dengan sistem lebih modern. Salah satunya di Sulawesi Selatan..(Bisa dilihat di tulisan dengan alaman web. http://masbudihartono.wordpress.com) di salah satu tanggapan warganya di kecamatan Masuji Makmur ini. Berkat karet kehidupan ekonmi desa sudah berubah..katanya rumah riumah di kampungnya sudah berganti dengan rumah permanen,,kendaraan pribadi dan peralatan elektronik). Mestinya Bandul dan daerah sekitarnya di Meranti sangat bisa.
Memang butuh dana investasi besar untuk buat kebun. Tapi kalau mau, sekarng ada program revitalisasi perkebunan. Jangankan Meranti, Riau saja, memang realisasi program ini kecil. Padahal skim kreditnya besar untuk karet Rp 36 juta/ haktare. Kalau pakai skim ini pemerintah memberikan stimulus yakni 50 persen ditanggung pemerintah. Jadi petani hanya mengembalikan kredit 50% saja. Misalkn kredit komersial sekatrang 12-13 persen, maka yang dibayar petani bearti 6-7 persen..(Ini dana murah lho). Tapi tergantung pemerintah daerah dan masyarakatnya juga..mau atau tidak (kata orang inikan pilihan. Tapi kalau konsisten untuk tidak maju, kan jadi PERTANYAAN BESAR).
Jadi balek ke awal cerita tentang Bandul tadi, kampung ini memang punya banyak potensi..Tinggal bagaimana mengembangkan dan membuat perencanaan agar daerah transito ini memang benar benar maju. Perlu kerja keras dan niat baik...sehingga tak menjadi kampung yang makin terbelakang, tapi kampung maju yang beradap dan tentram..(amin)..

Selengkapnya -

Sabtu, 24 Oktober 2009

Sepenggal Kisah Raja di Tanah Bentayan

foto diambil dari buku pendekar mursalim, karya sudarno mahyudin

(es beno,bangas bersorak)
Kebetulan dua pekan lalu pergilah daku ke salah satu desa di Rokan Hilir (Rohil). Perjalanan yang menurutku sedikit menyiksa, sebab kami harus memburu waktu. Sepakatlah dari kantor (PT RIC) menggunakan kendaraan double cabin, Ford, untuk menembus delapan jam waktu tempuh perjalanan. Daku sama sekali tak merasa selesa, aku mabuk digasak jalan yang berliku dan berbukit. Apalagi kondisi badan ku tidak fiks, rasa perutku diputar putar dengan alat sentrifuse, akhirnya .......

Kali ini aku ceritakan penggalan cerita yang menjadi khasanah daerah ini. Syahdan, dulu kabarnya daerah ini terdapat seorang raja berkuasa, tepatnya di Bentayan. Kisah ini tertulis sebelum daerah ini manjadi daerah kekuasaan Siak. Ini dari Tambo bertuliskan arab melayu yang sampai kini diwariskan secara turun temurun.
Tak jelas nama kerajaannya, tetapi nama sultan dan makamnya masih ada sampai sekarang. Kisahnya ini bermula dari Tengku Syarif Ali, pangeran kerajaan Samudra Pasai. Ia pergi meninggalkan kerajaan Pasai setelah kisruh dengan keluarga, tak jelas juga motivnya. Lalu ia terdampar di desa bernama Pembatang. Kedatangan Syarif disambut baik warga tempatan. Termasuk Datuk Rantau Benuang—Datuk satu-satunya di Pembatang—ia langsung menawarkan agar Syarif Ali bermukim di daerah ini. Halima Putih salah satu putrinya kemudian ia nikahkan dengan Syarif Ali.
Ini mungkin dugaan kuat ada kerajaan kecil, sebab Syarif Ali berasal dari keturunan raja. Tapi yang jelas sampai saat ini Syarif Ali tersohor dengan sebutan Datuk, ia diberi gelar Datuk Batu Hampar. Sebutan ini muncul karena dalam hikayatnya ketika sholat Ia sering mengunakan batu besar, bekas perahu yang digunakan. Desa Pembatang yang menjadi tempat tinggalnya sekarang disebut pula dengan Bukit Datuk Batu Hampar.
Kisah tentang Datuk Batu Hampar ini pun tak terkuak jelas, tambo peninggalan situs sejarah sudah banyak rusak. Tapi benda-benda peninggalan Datuk Batu Hampar masih bisa ditemukan. Seperti tongkat, pedono (tempayan), lelo (meriam kecil), dan keris. Ada beberapa benda warisan yang hilang seperti baju besi, pedang, ikat pinggang emas dan gong. Kabarnya dulu sering diincar kolektor barang antik dari luar negeri.
Sayang tak banyak ternukil dari kisah kerajaan ini, tapi tulisan ini hanya mengkabarkan khasanah negeri ini sangat kaya. Kita saja yang lupa dengan khasanah daerah sendiri dan selalu membiarkan ditelan zaman. (*)
Selengkapnya -

Sabtu, 17 Oktober 2009

”Tak kan Patah” Istana Sayap Pelalawan


(esbeno, Bangasbersorak)

”Yang serai ada rumpunnya
Yang sungai ada guguknya
Yang keris ada hulunya
Yan tombak ada gagangnya
Yang rumah ada tuannya
Yang kampong ada penghulunya
Yang negeri ada rajanya”(CATATAN Tennas Efendy)

Ungkapan petuah Melayu diatas perlu dibuktikan, tapi untuk menelisik puing puing kerajaan di Riau memang agak sukar, sebab beberapa situs kerajaan tua sudah raib beserta peninggalan sejarahnya, baik semacam situs atau riwayat kerajaan. Tinggalkan kisah kerajaan tersisa pada kepingan-kepingan, yang sedikit ini perlu ditelusuri kembali.


Begitu juga kisah Kerajaan Pelalawan, istana asli kerajaan sudah tidak ada, alhamdulillah pemerintah setempat (Pemda Pelalawan) merekontruksi kembali. Istana ini kembali ada, mengisyaratkan kemashuran kerajaan terdahulu tidak bisa terendam selamanya.

Istana kerajaan Pelalawan yang tersohor dalam sebuah tulisan disebut dengan nama Istana Sayap. Istana ini dalam hikayatnya ditasbihkan oleh Sultan Pelalawan ke 29, yakni Tengku Sentol Said Ali. Ketika memimpin, ia berazam memindahkan pusat kerajaan dari Sungai Rasau (Anak Sungai Kampar) ke muara ujung Pantai. Tapi sebelum istana selesai, ia terlebih dahulu meninggal, karena itu ia diberi gelar Marhum Mangkat di Balai.

Tapi niat mendirikan Istana Sayap tetap dilanjutkan Sultan Syarif Hasyim II. Ketika ia bertahta, ia menggubah istana yang belum selesai dengan dengan membangun dua sayap baik disamping kanan dan kiri istana sebagai balai. Maka sejak itu istana ini disebut dengan Istana Sayap. Pendirian istana ini menjadi filosofi dan mengakar di masyarakat setempat , saat mendirikan rumah, secara adat mensyartakan ada bangunan induk dan bangunan anak.

Jadi Sultan Syarif Hasim II lah raja pertama Pelalawan yang bermastautin di Istana Sayap, jasanya ini membuat ia mendapat gelar Marhum Kampar II. Namanya disejajarkan dengan Sultan Kampar I yang merupakan Sultan Mahmud Syah I Sultan Malaka yang mangkat di Pakantua, Kampar. Sejak saat itu resmilah desa yang kini disebut Desa Pelalawan yang menjadi pusat kerajaan Pelalawan. Disinilah riwayat kerajaan Pelalawan sampai akhir, dibawah kepimpinan Syarif Harun.

Riwayat Kerajaan Pelalawan sangat panjang. Kerajaan ini juga tidak terlepas dari hikayat negeri negeri Melayu tersohor seperti Melaka, Temasek dan Siak Sriindrapura. Awalnya kerajaan Pelalawan berdiri di Pekantua, kemudian pindah ke Sungai Tolam, lalu pindah di Sungai Rasau dan baru menetap di Pelalawan.

Saat di Pakantua, kerajaan didirikan oleh Maharaja Indera. Beliau disebutkan sebagai bekas orang besar Kerajaan Temasik, serumpun Melayu yang pisah dari Johor dan menjadi negara Singapura.

Kala itu Kerajaan Temasik dikalahkan Majapahit, saat itu kerajaan Temasik dipimpin Permaisura (Prameswara ) ia mengundurkan diri ketanah semenanjung mendirikan kerajaan Malaka. Sedangkan Maharaja Indera membangun kerajaan Pekantua di Sungai Pekantua.

Tapi setelah kejaaan Melayu kembali pulih di Melaka, sebuah riwayat menceritakan Pakantua ini kemudian diserang Melaka, sehingga kekuasaan langsung diambil alih oleh Sultan Melaka. Pakantua ditasbihkan menjadi Pekantua Kampar.

Tapi setelah berselang puluhan tahun kemudian, kerajaan Malaka malah menuai masalah sebab diserang Portugis, sehingga posisi sultan mendapat ancaman. Pada saat yang kemelut itu, Sultan Mahmud Syah I dinobatkan menjadi Raja Pekantua Kampar. Ketia mangkat beliau diberi gelar Marhum Kampar.

Tapi dalam perjalanan sejarah salah satu pewaris Kerajaan Pakantua kampar meninggakan kerajaan dan pindah menuju Tanah Semananjung untuk mendirikan Negeri Kuala Johor. Kala itu dibawah kepemimpinan Sultan Alauddin Riayat Syah II, ia pun disebut sebagai pendiri Kerajaan Johor. Tapi saat meninggalkan Pekantua, beliau menunjuk dan mengangkat Mangkubumi Pekantua yakni Tun Perkasa sebagai raja muda.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, ada sebuah persebatian beberapa kerajaan Melayu, demikian dengan kerajaan Pelalawan. Setelah berdiri kerajaan Johor terjadi kemelut antara dikerajaan dan ini juga memunca konflik berdirinya kerajaan kecik Siak Sriindrapura. Memang beragam fersi sejarah yang muncul, tapi para pencatat silsilah sepakat mengakui ada persebatian antara kerajaan Johor Siak dan Pelalawan.

Tapi soal pertikaian antara beberapa kerajaan dibuktikan dengan silsilah kerajaan itu. Sejarah Pelawalan menukilkan terjadi penyerangan pula dari kerajaan Siaksriindrapura ke Pelalawan, perang saudara ini terjadi di benteng Mempusun, benteng dan bekas perperangan sampai saat ini masih ada, sekarang menjadi musium. (Lain kesempatan akan kami tuliskan sedikit tentang Mempusun) ini, setelah Pelalawan takluk dibawah kerajaan Siak berubah pulalan penguasa kerajaan, dan pencatat sejarah menukilkan sejak pertempuran itu pimpinan Pelalawan langsung beralih ke silsilah Sultan Said Abdurrahman berketurunan Siak sampai masa habisnya kerajaan. (*)
Selengkapnya -

Minggu, 11 Oktober 2009

Bersua Sudah dengan Blogger Bertuah


(Es beno, bangasbersorak)

Keunikan komunitas ini kebanyakan mengenal teman teman mereka dari karya dan eksistensinya di dunia maya. Karakter cerdik dan unik teman lain selalu dikenal.


Menyaksikan malam minggu (malming) di Pekanbaru, jalan jalan terasa sesak. Hilir mudik pengendara saling berseliweran, berkejar kejaran, pekikan pekikan suara pengendara sepeda motor hampir merata dijalanan. Saban malming kejadian seperti ini, begitu juga malam tadi.


Ditengah huruk pikuk pengendara beragam jenis kendaraan itu, kendaraan kami meluncur ikut memecahkan riuhnya Pekanbaru. Sepanjang perjalanan tentu saja beragam pemandangan yang kami saksikan, maklum lintasan yang kami lalui dari Panam, kawasan yang menurut catatan, jumlah hunian meledak, bahkan Pemerintah Kota Pekanbaru mengaku kawasan ini merupakan kawawasan tercepat pertumbuhannya.

Banyak penyebab kawasan ini diincar banyak orang, kawasan ini dekat dengan dua kampus utama yakni Universitas Riau (Unri) serta Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim. Selain itu disini sudah dibuka jalur jalur lingkar yang akan menjadi tempat pertembungan dari berbagai kota terutama menuju terminal utama yakni bandaraya payung sekaki (Terminal bus ini merupakan termegah saat ini). Apalagi beberapa waktu lalu, investor asal Malaysia menggandeng ritel terbesar yakni Hero Indonesia merealisasikan membuka pusat perbelanjaaan yang tak jauh dari kampus yakni Giant Supermarket, kawasan ini semakin bertambah ramai.

Wajar saja Panam menjadi kota hidup di Pekanbaru, di tepi tepi jalan sudah ramai jualan makanan makanan pada malam hari. Tidak seperti 3-4 tahun yang lalu, semuanya berubah pesat.

Setelah melewati Panam, yang paling fenomenal tentu sepanjang Jalan Arifin Ahmad dan Purna MTQ Pekanbaru yang kini berubah nama menjadi Bandar Serai Pekanbaru tempat berdirinya musiam megah Idrus Tintin. Sepanjang jalan ini terlihat berderet berbagai komunitas motor berjejer sepanjang jalan, tidak terkecuali pedagang jagung bakar dengan tamunya sepasang kekasih dengan gadis gadis cantik yang tampak seksi. Semua pemandangan itu kami lalui begitu saja, sampai tibalah kami ditempat salah tongkongan anak anak yang selalu eksis dikotak dunia maya, komunitas Bertuah, bloger Pekanbaru.

Sampai ditongkrongan, menu yang disajikan berupa teh telur, yang kini banyak dibicarakan dikomunitas blog luar, sejak Anthony Bianco mempopulerkan setelah berkunjung di Pekanbaru. Kami disambut Atayaya dan Sang Penyamun. Meski baru pertama bersua, rasanya sudah bertemu lama. Wajar sebab Attaya kan konsisten di dunia maya, begitu juga dengan sang penyamun yang kini kata temen temen sedang ayiknya dengan hiburan baru yakni berpetualang di dunia game, warior, hehehe. Padahal itu wakil ketuanya komunitas Bertuah, men.

Tak lama berbincang, serdadu yang lain berdatangaan, kepala puak Bertuah, Bang Fiko, serta prof dan ........ perbincangan makin sengit sebab aku (bangasbersorak) datang dengan NanLimo admin blog Sungai Kuantan yang blognya bercerita tentang wisata riau itu membawa segudang informasi. Cuap cuap pertama soal ilmu SEO yang baru aku kenal sedikit sedikit, padahal begitu penting didunia blog.

Tapi pembicaraan tak sebatas tentang satu hal, soalnya semua nyambung saja saat berbicara. Beragam yang mengalir baik tentang....maupun tentang ....sori sedikit pembicaraan boleh kan disensor untuk pembaca.hehehe.

Meskipun pembicaraan umum tentang yang sering dijadikan kata kunci atau keyword para blogger tentu saja muncul, seperti kata kata Musyaarah Nasional (Munas) Golkar, mencari kerja, lowongan pegawai negeri sipil, lowongan pegawai negeri sipil di Meranti, datangnya Miyabi, Manohara, KPK, teroris, dan kata kata telanjang, bugil yang digemari banyak pencari google dinegara kita serta keyword keyword lain yang muncul jadi cemoohan dan candaan.

Apapaun itu, aku senang sekali, bertemu dengan komunitas Bertuah ternyata juga banyak ilmunya. Dan ternyata pada care untuk berbagi sama baikknya saat didunia maya. Heheheh. Wajar saja si blogger ternama Antonio bisa betah beberapa hari di Pekanbaru serta sempat pula menyusuri beberapa situs menarik seperti candi muara takus yang terkenal itu setaleh berekenalan dengan komunitas Bertuah.

Pembicaraan melebar sampai jelang pesta bloger indonesia di Jakarta 24 Oktober nanti, dan munguntit informasi setelah pertemuan summit raja raja media termasuk Murdoch si pemilik Majalah Time di dunia yang ingin mendekati para jejaring sosial seperti twitter dan bloger sebab komunitas dan jaringan ini mampu berambah dan jauh menyangingi media terutama koran dan televisi.

Pendek cerita, malming yang kata orang sebagai malam yang panjang benar benar tak berlaku, pembicaraan diatas meja minum teh telur (karena hanya satu orang yang minum kopi) maka enggan sebutkan sebagai meja mimun kopi begitu cepat berlalu. Tanpa disadari pertemuan yang mulai jam 9.00 malam sampai duaan pagi dinihari. Dan tentu saja pembicaraan ini tak berakhir malam itu akan berlanjut lagi seru dan bertambah ramai diantara dunia maya yang melesat menembus batas batas dunia.


(catatan setelah bersua, teh telur darat dengan komunitas Bertuah)
Selengkapnya -

Rabu, 07 Oktober 2009

antara Malaka dan Riau, dua persebatian yang bersatu


Persebatian dunia Melayu diharakan menguat, setelah Forum Indonesia Malaysia dan Thailand (IMT-GT) menyepakati mega proyek pembangunan roll-on roll-of Dumai Melaka. Jika rencana ini direalisasikan Dumai Melaka yang jaraknya tidaklah jauh akan menjadi pintu mobilitas baru untuk pembangunan ekonomi dan wisata dua negara.


Mega proyek ini sudah direncanakan beberapa tahun silam. Namun sepanjang perjalanan, penyelesaian roro ini terkatung katung karena dua negara ini punya prinsip aturan yang berbeda. Sehingga perlu diplomasi yang matang sehingga kerja sama untuk menyatukan persetubuhan dua rumpun ini tidak saling merugikan.

Sebab Indonesia mungkin punya banyak pengalaman, disepanjang laut lepas perbatasan serta pintu pintu masuk dalam negeri sering dijadikan pintu ter-aman untuk melakukan berbagai tindakan kriminalisasi dalam perdagangan. Tentu saja akan merugikan negara, sebab barang impor yang melenggang masuk ke dalam negeri tidak memberikan sumbangan masukan pendapatan kepada negara. Sehingga pengusaha lokal juga kewalahan, sebab barang dagangan black market biasanya lebih murah.

Tapi sisi lain kita juga menyadari, aparat kita masih sangat lemah untuk menolak dan menahan godaan manisnya duit. Sebab kalau barang dagangan luar masuk, ada kabar selentingan yang mengatakan mereka membayar semacam uang upeti. Tindakan moral bangsa kita juga yang seperti ini dan membuat praktek perdagangan terselubung makin gencar.

Malaysia sendiri masih mempertimbangan berbagai hal terkait kerja sama untuk pengembangan dua rumpun ini. Kita tidak tahu apa masalahnya, tetapi sesekali dari pernyataan langsung para delegasi Malaysia yang berkunjung ke Riau masih tidak percaya dengan sistem tata negara kita yang selalu berubah ubah kebijakanya. Jadi investasi besar yang sudah ditanamkan dikhawatirkan akan merugikan, mungkin seperti itu sekelumit permasalahan mega proyek ini.

Tapi bolehlah kita ancungi jempol pada gubernur Riau HM Rusli Zainal, sebab dari komitmen yang kuat untuk membangun investasi di Riau ternyata membuat penyelesaian mega proyek ini tidak bisa dipandang sebelah mata dari negara tetangga. Apalagi beragam perangkat dan infrastruktur untuk perlengkapan proyek roro ini terus disiapkan. Bahkan aturan yang berbeda antara dua belah pihak disepakati untuk memberikan kepastian dua belah pihak.

Kabarnya, Riau sudah matang hampir seratus persen, bahkan persedian kapal penyeberangan juga sudah disediakan. Awalnya memang sulit mencari pihak ketiga untuk menanamkan investasi pernyediaan kapal, beberapa kali proses pelelangan tidak ditanggapi. Sepertinya investor kesulitan untuk memenangkan persedian kapal yang berkapasita 1.000 GT.

Apalagi gayung bersambut setelah pemerintah pusat ikut nyimbrung mengurusi mega proyek ini. Semuanya berjalan lancar setelah beberapa tata aturan diselaraskan dengan Keputusan Menteri Perhubungan RI Nomor 58 tahun 2003 tentang mekanisme penetapan pelayaran dan formulasi tarif layar. Artinya, tidak sembarangan kapal saja yang bisa berlayar di Selat Malaka.

Mega proyek itu kini hampir saja rampung, bahkan dalam waktu dekat Gubernur Riau kembali menemui delegasi ketua Menteri Melaka untuk membincangkan mega proyek yang masih ada masalah itu. Salah satunya terkait persiapan pelabuhan di Malaka tepatnya di Kuala Linggi yang ternyata tidak sesuai dengan badan kapal yang sudah disiapkan.

Maksudnya setelah kapal disiapkan kapal dipastikan tidak bisa merapat dipelabuhan karena pelabuhan roro di Melaka terlalu kecil. Pemerintah provinsi Riau mendesak agar muara pelabuhan diperdalam agar kapal bisa merapat.

Semua harapan tidak hanya soal persetubuhan dua pelabuhan, tentu saja antara dua negara yang beberapa akhir ini tercabik cabik karena ulah dan sikap yang tidak menyenangkan. Semuanya masih menaruh harapan besar, agar serumpun dinegara yang beda kadaulatan ini saling mendukung dan rukun.
Selengkapnya -

 

© Free blogger template 3 columns

| Wisata Riau | Pekanbaru Riau