“PULAU RUPAT” Bak Belakang Rumah Yang Terabaikan (Perjalanan Menyusuri Moleknya Rupat)

(Es beno, bangas bersorak)

Satu lagi eksotik alam Indonesia yang begitu memukau, pasti bakal memikat wisatawan. Pulau Rupat, Pulau yang tersudut berhadapan dengan Selat Malaka memang selama ini kurang di kenal, tidak pernah terdengar riuh orang membicarakan Rupat. Padahal Pulau ini begitu indah. ”Sejak dulu lagi kalau orang ke sini mengatakan bahwa Rupat itu Indah. Sangat Indah, tapi kami sudah tidak peduli lagi, sebab sampai sekarang tidak ada yang dibuat untuk menjadikan Rupat sebagai daerah wisata,” kata Mat Jaman, salah seorang warga Desa Rhu, Tanjung Medang, Rupat Utara.
Rupat berhadapan dengan Selat Malaka, sekarang, daerah ini diproyeksikan untuk menyatukan Riau dan Malaysia. Pemerintah Provinsi Riau dan Pemerintah Malaka pun sudah sepakat untuk membuat jembatan penyeberangan rool and roll (roro) Riau -Melaka, melalui daerah ini. Tapi sayangnya proyek ini sampai sekarang belum terealisasi, Riau mengklaim Pelabuhan Pord Dikson di Malaka yang tidak sesuai, sehingga feri kapal roro dijamin tidak bisa bersandar, sedangkan Malaysia juga punya alasan lain.


Yang jelas, proyek menyatukan Riau- Melaka bakal lama lagi terwujud. Keseriusan Riau masih dipertanyakan. Sebab jika pun roro itu bisa beroperasi, dipastikan akses berikutnya tak jelas. Soalnya dari Tanjung Medang ke Dumai sama sekali tak ada akses yang mendukung. Memang ada akses roro Dumai- Pulau Rupat. Tapi ini di bagian kecamatan Rupat Selatan. Untuk mengakses Rupat Selatan ke Tanjung Medang, Rupat Utara saja akses jalan sangat buruk. ”Jangankan mau menembus Rupat Utara ke Rupat Selatan, antar desa saja di Rupat itu sulit ditempuh,” kata kak Evie Syamsir, wartawan LKBN Antara pada ku.


Memang hal tersebut seperti itu kondisinya, awalnya kami ingin menyusuri menggunakan mobil. Tapi ternyata tidak bisa, akhirnya memutuskan menggunakan speed boat yang langsung menuju ke Tanjung Medang. Pusat Kecataman Rupat Utara itu, yakni Tanjung Medang tidak begitu ramai. Jangan bayangkan disini lalu lalang wisatawan masuk, jangan bayangkan juga kotanya di penuhi pusat pusat belanja menarik. Atau jangan bayangkan anda akan langsung disuguhi gemerlap kota wisata. Kota ini sepi, satu dua ruko baru memang berdiri, tak ada lalu lalang kendaraan, hanya satu dua motor sedang menjemput koleganya yang baru saja turun dari speead boat. Dan yang kami tumpangi merupakan speead yang pertama kali dari Dumai, ada satu lagi speed yang datang pada pukul 15.00 WIB. Bahkan di pelabuhan ini satu satunya ada warung makan.



Tapi akhirnya kejenuhan tentang kesepian itu terobatati. Setelah menuju je Desa Tanjung Rhu, Tanjung Medang, Rupat Utara, mata kami benar benar terpukau dengan eksotiknya Pulau Rupat. Pantainya begitu bersih, panjang memutih, seluas mata memandang. Aku bersama teman temanku berjingkrak-jingkrak girang menikmati indahnya Rupat. Sepengetahuan aku, jika dibandingkan Pantai Cermin, Sumut dan Pantai Padang, dan Pantai Kalangan di Sibolga, tempat-tempat ternama itu tidak ada apa-apanya. Sepajang 30 KM dan mungkin lebih semuanya pantai. Pantai yang begitu indah....Rupat sebenarnya surga bagi wisatawan.



”Sebelumnya presiden Soeharto pernah mau menghubungkan Malaka dan Indonesia, waktu itu kite orang kampung dah dengar kalau Rupat akan dijadikan tempat wisata. Kami bukan senag dengar kabar itum, tapi sampai sekarag kampung kami macam ini aje. Rupat ini bagai belakang rupat yang selalu diabaikan,” kata Mat Jaman mengadu.
Belakang rumah, tentu konotasinya sangat mendalam, sebuah kampung yang indah, tapi sebab berada tersuruk, menyebabkan selalu diabaikan, sehingga potensi yang begitu indah tidak pernah dilihat oleh orang lain.
Uniknya lagi, sebelum merapat ke Tanjung Medang, ada beberapa pulau yang mengapung di Selat menuju Rupat Utara itu. Ada tiga pulau besar yang seakan akan mengapung, dari kejauhan tampak daratan pulau diselimuti pasir memutih. Sanngat indah, meskipun tiga pulau itu tidak ada yang menghuninya. ”Name pulau itu ada yang bernama pulau Babi, Pulau Beruk dan Pulau Beting Acheh, sampai sekarang tak ade penghuninye,” kate Maryamah, penduduk Rupat Utara, juge seorang guru tempatan saat dalam speedboat bercerite.
Rupat-rupat..”Molek Nian Dikau” tak bisa kusebut dengan kata-kata. Tapi kali ini kusampaikan juga beberapa foto istemawa Rupat, hasil ekpedisi beserta teman teman. Ape sebab kami katakan ekspedisi, sebab dari Rupat Utara menuju daerah Rupat Selatan di Pangkalan Nyirih, kami menyusuri dengan menggunakan jalan darat. Tentu saja dengan kendaraan bermotor, walau kami juga harus menyeberang dengan menggunakan pompong melalui sungai yakni di antara Desa Kadur ke Desa Makruh. Memang jaraknya tidak begitu jauh, tapi tentu akses ini susah, harus melewati Sungai ”Dayung”, mungkin nama sungai ini salah juge, pasalnya bapak yang menyebutkan ini agak tak faseh, kalau menurut aku warga ini tempatan tapi merupakan peranakan Cina.
Di sebelah Rupat Selatan, terutama di Desa Pangkalan Nyirih, tepatnya di Desa Lohong terdaoat juga pantai putih yang indah. Pantai indah ini juga ada di Desa Cingam dan Desa Makro. ”Pantainya lebih indah, kalau didepan sana langsung nampak Malaysia,” kata Mizan, anak anak tematanyang menemani kami dalam perjalanan.
Keunikan pantai ini pada panoramanya, pas kami datang ada beberapa kapal besar yang sedang berlabuh, tapi persisnya di tengah tengah selat, di pantainya pula air sedang naik pasang, gelombang laut sedikit kuat, tapi keindahan terasa tidak pudar, disekeliling pantai, ribuan pohon cemara tumbuh, pohon pohon ini tumbuh secara lamai. Rupat menjadi semakin molek...kalau aku ounya usul,,,ketimbang ke Bali, pergilah ke Rupat, pilihan ini tak akan membuat Anda kecewa.
Lanjut Baca → “PULAU RUPAT” Bak Belakang Rumah Yang Terabaikan (Perjalanan Menyusuri Moleknya Rupat)

Yang Terasing, Yang Terlupa

Es beno (bangas bersorak)


(Foto saat membawa bantuan ke suku Asli di Desa Selat Akar, melintas sungai, tapi tetap tersemyum..daku yang jadi tukang foto saja bro..hehe)

Menyusuri pesisir Bengkalis, Kepulauan Meranti, Pelalawan, Indragiri Hilir (Inhil) sering kita temukan hunian-hunian sederhana di tepi laut. Bentuknya tak istimewa, terkadang jauh pula dengan hunian-hunian yang lain. Rumah-rumah itu seakan menyendiri, menyepi dari keramaian.


Begitulah kehidupan suku suku asli di daerah,  dan di Riau kebanyakan. Mereka menghuni pesisir-pesisir pulau, berkawan dengan tebing dan ombak. Serta bersahabat dengan dinginnya angin laut yang menusuk dan teriknya matahari jika memanas. Jika dilihat, mereka seakan hidup terbelakang, rumah rumah mereka hanya beratap daun rumbia dan berdinding kayu, tak ada ukiran-ukiuran. Rumah yang cukup untuk bernaung, berteduh dari panas dan untuk melelapkan mata jika mengantuk.

Di dalam rumah, semua peralatan untuk memburu sangat cukup, seperti jala, pancing, jerat, parang dan alat alat buru lain. Hidup mereka sederhana, tapi selalu bergumul dengan ritual ritual mistik, cara untuk bersetubuh dengan alam, mereka animisme.

Kalau di pesisir daerah Bengkalis dan Kepulauan Meranti, ada beberapa suku terkategori terasing seperti Suku Sakai, Suku Laut, Suku Akit, Suku Bonai, Suku Hutan. Keberadaan Suku Sakai berada banyak di daerah Mandau, sejak daerah ini sering dieksplorasi minyak dan gas, advokasi kehidupan suku terasing Sakai mulai mendapat perhatian serius. Mereka tidak lagi menjadi bagian yang terasing, sejak rumah rumah mereka dijarah dijadikan kawasan kawasan pertambangan minyak. Selalu mendapat bimbingan sehingga pola hidup mereka pun mulai berubah mengikut kultur modern. Anak anak Suku Sakai sudah banyak yang bersekolah, bahkan kehidupan mereka sudah terlihat sejahtera. Tapi masih tak lah semuanya, masih banyak kami temukan suku Sakai yang berada di pinggir pinggir hutan, menusup dalam rimba yang terasing.

Kalau suku akit, di Bengkalis juga cukup banyak. Mereka menetap di tepi tepi laut. Kehidupan mereka mencari ikan, menakik karet dan menebang sagu. Kebanyakan mereka juga sudah mulai tersentuh peradaban masa kini, terutama bagi yang mau berkembang, mereka juga berintraksi dengan suku suku lain. Tapi kedupan mereka masih sangat tradisionil, mereka sering memelihara anjing, babi dan binatang-binatang ternak lain. Rumah mereka sederhana, berdaun rumbia dan dari kayu seadanya. Mereka percaya pada tahyul dan benda benda keramat seperti pohon besar dan tempat-tempat untuk persajian.


Mereka  banyak yang tidak sekolah, terutama jika berada benar benar di tepi tepi laut yang jauh dari pemukiman. Hidup mereka hanya mencari ikan, kalau pun ada yang sekolah, kadang tak sampai selesai. Mereka banyak yang putus ditengah jalan, wajar itu terjadi, mereka tersisih dalam pergaulan. Sehingga mereka secara alami terseleksi oleh lingkungan itu sendiri, apalagi orang-orang laut ini kadang tidak bersih, mereka selalu disebut Orang Sampan atau Orang Tambus (bau dan kotor). Sebutan diskriminatif ini sering muncul.

Ada yang unik dengan suku Akit ini, dalam sebuah tulisan jurnalistik kak Evie R Syamsir, kak Evie ini sekarang Kepala kantor Perwakilan ANTARA, kantor berita nasional di Pekanbaru. Beliau ini senior lah, tulisan featurnya banyak kita temui. Beliau ini pun yang pernah menyusuri ceruk ceruk kampung, bahkan ceruk ceruk hutan dan pedalaman. Dalam tulisan "Bedak Limau" Penonak Bala Ala Suku Asli ia paparkan. Suku Akit ini punya kebiasaan ritual tiap tanggal 15. Ritual itu disebut bela (memelihara). Tiap tanggal 15 bulan. 15 bulan ini tentu menurut hitungan arab, sebab penanggalan Arab ditentukan dengan masa perputaran bulan mengelilingi bumi, mereka menggunakan penanggalan ini. Saat bulan ke 15 ini mereka melakukan ritual bela ini dengan membedaki badan dengan bedak limau. Bedak limau ini dipercaya untuk menolak balak, pada waktu itu mereka pun tidak dibenarkan utuk bekerja.



(foto saat membagi bagikan bantuan....gembira juga melihat warga bersuka cita dengan pemberian yang sederhana ini)

Jadi yang melakukan bedak limaiu itu laki-laki dan  perempuan, besar atau kecil, mereka membawa bedak limau ke sumur keramat dan mandi di situ. Bedak yang mereka gunakan terbuat dari beras, yang telah direndam beberapa hari yang kemudian ditumbuk jadi tepung, rasa bedak ini seperti bedak sejuk. Kemudian bedak ini ditambah limau, berupa irisan jeruk purut ataupun jeruk nipis yang dicampur air dari sumur keramat.

Sepertinya ritual semacam ini juga mentradisi di daerah lain, tapi waktunya berbeda, seperti di Kampar dan Pekanbaru, saat sehari memasuki bulan Ramdahan, yang istilahnya dengan subutan Mandi Beliamau. (Tradisi ini setiap tahun ramai, kalau waktu waktu Belimau, Jalan Pekanbaru_Kampar bisa macet total. Ini semacam wisata baru, tradisi yang dipakai pun sudah mengalami pergeseran).

Buang sial ini, kata penduduk kampung, tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keselamatan satu kampung. Biasanya sumur yang digunakan tidak sembarangan, sumur sumur tua ini pun selalu mereka keramatkan, jika waktu waktu tertentu, mereka memiliki hajat sesuatu, mereka pun memohon dengan sumur itu, mereka letakkan sesajian, membawa berbagai bentuk juadah seperti buah-buahan ataupun kue wajit dan apam yang ditempatkan di bawah pohon.

Tidak hanya itu, suku yang disebut juga suku Asli ini juga mempunyai hari perayaan besar. Tiap tanggal 27 bulan Ramadhan, setahun sekali mereka melakukan kenduri arwah, mereka menyebut dengan malam tujuh likur atau malam ke-27. Jadi saat perayaan ini berlangsung, samalah dengan suku Melayu lain mereka memasang colok (lampu pelita) di setiap rumah mereka. Penerangan lampu colok itu menghiasi kampung hingga malam takbiran.

Mereka percaya, saat malam ke-27 itu merupakan saat melaksanakan ritual memberi makan arwah. Setiap rumah penduduk pada malam di penghujung bulan tersebut menggelar kenduri dan halaman rumah mereka diterangi dengan colok. Mereka memasak makanan yang sedap pakai rempah. Semakin bau wangi masakan, merupakan pertanda bahwa niat baik kami terhadap arwah nenek moyang direstui.

Suku Asli di Bengkalis masih banyak, suku ini juga bermukim di daerah Pulau Padang, Dedap, Kudap, Bandul, Selat Akar dan daerah daerah pesisir Kepulauan Meranti. Saat Lebaran lalu kami sempatkan berkunjung salah satu pemukiman suku Asli di Desa Selat Akar, Kecamatan Merbau, Kepulauan Meranti, bersama paman ku, Taslim Prawira serta Abdul Haris. Paman Taslim, memang aktivis sosial, ia sebagai perantara melakukan pendampingan di suku suku terasing. Yang selalu disana Abdul Haris, guru Bahasa Inggris. Dialah yang melakukan pendampingan. Pendampingan ini memang belum optimal, tapi langkah sederhana yang mereka lakukan sudah tepat, sehingga saat saat tertentu, jika terjadi sesuatu peran pendamping ini sangat dibutuhkan, meskipun apa yang dilakukan pendamping ini secara perlahan lahan.


    (anak anak Asli,,mereka lugu dan polos)

Pada saat Raya Idul Fitri kemarin, kami sempat menyalurkan bantuan kapada beberapa warga. Bantuan yang kami berikan berasal dari Rumah Zakat Indonesia (RZI), bantuan berupa baju baju layak pakai dan Alqur’an. Maklum orang orang suku Asli ini sebagain baru memeluk Islam. Jumlahnya ada puluhan. Kami disambut Kepala Desa Selat Akar, Kadi dan Imam Mushalla setempat, dan warga tentunya. Menuju Desa ini tak terlalu jauh dari kampung, kami melintas Sungai, pakai sampan lalu menempuh setengah kilo perjalanan.

Saat sampai, hatinya terhenyuh, sebab anak-anak suku Asli yang lain berkerumun menonton kami, sementara bantuan yang kami berikan tidak begitu banyak, itu pun untuk suku Asli yang baru muslim, sementara mereka juga saya rasa sangat membutuhkan. Mereka datang dalam keadaan sangat lecun, seperti yang disebutkan tadi, (Maaf terlihat jorok dan berbau)...betul-betul rasa simpati menyentuh, kulitnya hitam, bertelanjang badan dan banyak yang berjalan tanpa alas kaki.

Saat itu, sedikit kabar menyenangkan dari Kepala Desa Selat Akar, Pak Amir. Ia menyebutkan sebentar lagi kampung ini dapat bantuan rumah untuk warga pra sejahtera. Sebagian ia janjikan untuk orang-orang suku terasing ini. Aku pun tak merinci untuk siapa siapa saja rumah itu, tapi memang mestinya orang-orang suku terasing inilah yang harus dapat prioritas, apapun agama mereka saat ini.

Oh ya balik ke cerita suku suku terasing di Riau. Masih banyak kondisi suku suku terasing yang belum diperhatikan. Kalau di Inhil yang terkenal dengan suku Duano, mereka juga menetap di laut, rumah mereka berada diatas pantai, bersambung sambung dengan rumah yang lain. Tepatnya seperti kampung Nelayan. Orang Suku Duano terkenal dengan tradisi Menongkah, menongkah ini yakni cara menangkap kerang. Menangkap kerap dihamparan pantai yang penuh lumpur dengan alas kayu. Tangkapan kerang suku Duano terkenal. Bahkan pernah pulak saya sampai ke Guntung, daerah paling Selatan Inhil, kawasan yang memikat juga, disini banyak juga kerang dan ikan ikan tangkap dari laut, kalau kerang yang terenal, dengan kualitas kerang yang berisi ya kerang dari tangkapan Duano ini.

Di tempat lain,, suku Asli yang masih dilupakan adalah suku Talang, berada di ceruk ceruk hutan. Banyak ditemui di Indragiri Hulu (Inhu) berada diperbatasan Jambi yang menyusur di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT). Alhamdulillah beberapa kali ekpedisi saya dibawa kesini. Suku Talang Mamak yang terkenal, dan suku suku Talang lain kabarnya juga ada. Mereka hidup seakan sudah bersetubuh dengan alam, mereka ini pun punya tradisi yang unik, misalkan dalam waktu waktu tertentu (maaf saya lupa nama ritualnya) semacam musim kawin, mereka membolehkan anak anak lajang mereka berkumpul sesama memilih pasanganya, setelah sesuai baru melakukan akad perkawinan. Ritual perkawinan juga mengunakan kadi dan saksi, mereka animisme kepercayaanya  bercampur campur.

Tentu saja tak semuanya yang masih seperti ini, yang berada di daerah luar, yang sudah bersentuhan dengan suku suku lain. Kehidupan mereka berubah, mereka ada yang sekolah, tapi bagi yang jauh, tentu banyak yang belum menikmati pendidikan. Guru dan sekolah sekolah mereka masih sangat terbatas, tak semua guru yang mau mengajar di tempat tempat pedalaman. Berinteraksi dengan suku-suku langka yang penuh kesabaran, dan mungkin harus dilakukan dengan dedikasi yang utuh, sebab tak mungkin mereka bisa mendapatkan balasan materil yang cukup saat mengajarkan orang orang yang masih terasing ini.


Butuh kebijaksanaan yang dingin menjadikan mereka bagian kita

Sekarang mereka hidup dengan tradisinya sendiri, tak ada yang salah dengan kehidupan mereka. Bahkan tradisi dan ritual yang mereka lakukan lebih kuat dan mengakar ketimbang kita yang sudah dibimbing dengan berbagai pandangan hidup yang lebih modern. Mereka malah banyak yang menyikapi hidup dengan arif, membuat larangan-larangan tertentu karena memang ada kaitanya dengan sensifitas alam yang bisa menyebabkan kerusakan kerusaka. Naluri mereka tentang hidup dan selera alam sangat kuat, ia merasakan seakan alam bisa diajak bicara,  misalkan dari tanda-tanda alam itu sendiri, dari -bunyi bunyian burung, atau kayu sekalipun.

Cuman yang harus kita lakukan adalah membimbing mereka, dan tidak membiarkan mereka menjadi terasing disudut sudut pulau, atau dihimpitan hutan yang luasnya makin mengeciil. Mereka harus dibekali tulis baca untuk menghadapi persaingan dengan yang lain. Kita tidak menginginkan dan membiarkan mereka terbelakang.

Alamdulillah, setiap tahun alokasi angaran untuk membangun suku terasing makin banyak. Cuman kalau muncul pertanyaan, apakah anggarann yang besar itu sudah sampai semua kepada mereka, ini yang harus sama sama kita waspadai. Jangan sampai pula karena mereka terbelakang, mereka hanya dijadikan bagian untuk ekspoitasi program saja, realisasinya nihil.

Tahun ini alokasi dana APBN untuk dekonsentrasi Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Riau meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2007 anggaran pemerintah mencapai Rp 2,7 miliar, 2008 mencapai 2,3 miliar dan 2009 ini naik menjadi Rp 2,8 miliar lebih. Anggaran tersebut akan dipergunakan untuk pemberdayaan KAT seperti sertifikasi lahan, pembangunan ramah, pembuatan sarana air bersih dan beberapa kegiatan pembangunan lain.

Asisten III Bidang Administrasi Umum Pemerintahan Riau Ramli Walid mengatakan, untuk mewujudkan pemberdayaan KAT ini, peran daerah sangat menentukan karena proporsi pengaturan KAT ini juga lebih besar. Ini sesuai kewenangan sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan PP No. 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten dan Kota.

"Pemerintah pusat di sini hanya memberikan fasilitas dukungan anggaran untuk memberdayakan. Melalui program dekonsentrasi 2009," kata Ramli.

Ramli menyebutkan, anggaran KAT untuk Riau ini merupakan anggaran yang terbesar dibandingkan dengan beberapa provinsi lain. Dana tersebut akan diperuntukkan bagi pembangunan di 68 Desa dan 31 Kecamatan di enam kabupaten di Riau yakni Bengkalis, Indragiri Hulu (Inhu), Indragiri Hilir (Inhil), Rokan Hulu (Rohul), Pelalawan dan Siak.

"Dana KAT ini untuk pemberdayaan suku pedalaman seperti suku Sakai di Bengkalis dan Siak. Suku Akitdi Bengkalis dan Pelalawan, suku Bonai di Rohul, Suku Talang Mamak di Inhu dan Suku Laut atau Duano berada di Inhil," ujarnya.

Untuk itu, tambahnya lagi, dana KAT yang cukup tinggi ini selayaknya terealisasi secara optimal. Sehingga kualitas hidup dan kesejahteraan masyakarat KAT saban tahun berubah menjadi meningkat. "Kita ingin meningkatkan taraf kesejahteraan sosial mereka dengan tetap memelihara sosial budaya, kearifan lokal dan mengatasi keterpencilan secara geografis. Misalnya dengan memberikan bantuan perumahan, jaminan hidup, peralatan kerja dan bantuan usaha. Biasanya bantuan ini kita berikan tiga tahap.

Kepala Dinas Sosial Riau Raja Lukman Mat juga mengatakan, jumlah populasi KAT di Riau masih banyak. Sehingga komunitas yang tersisa tersebut perlu diberdayakan dan ditingkatkan taraf hidupnya. Tahun 2009, dari sekitar 11.988 populasi KAT di Riau yang belum diberdayakan sebanyak 8.719 populasi.

Di Kabupaten Bengkalis jumlah KAT mencapai 5.516 populasi yang belum diberdayakan sebanyak 3.891, di Indragiri Hulu (Inhu) jumlah KAT mencapai 3.165 dan yang belum diberdayakan sebanyak 2.465 orang, di Indragiri Hilir (Inhil) sebanyak 952 dan belum diberdayakan 471 populasi, di Rokan Hulu (Rohul) mencapai 1.916 populasi yang belum diberdayakan 1.549 populasi, di Pelalawan mencapai 324 populasi yang belum diberdayakan mencapai 247 populasi, dan Siak sebanyak 125 populasi yang akan diberdayakan tinggal 69 populasi.

"Yang menjadi permasalahan saat ini masih rendahnya pemahaman aparat daerah tentang program KAT. Sehingga program pemberdayaan cendrung tidak sesui yang diharapkan. Selain itu SDM pendamping orang lokal sulit dicari karena umumnya warga KAT berpendidikan rendah," kata Lukman Mat.

Setelah didukung program pemerintah, tentu kita mengharapkan mereka mendapat perhatian serius. Kalau saja masih banyak penyelewengan program itu, itu merupakan tanggung jawab pemerintah dan tentu saja  anggota dewan yang terpilih, mereka bertugas untuk mengawasi program program itu..(*)
Lanjut Baca → Yang Terasing, Yang Terlupa

Tak kan Melayu “Membeku di Musium dan Ruang Arsip”


Es beno (bangas bersorak)


Riuh randah suara seremoni anugerah budaya, helat anugerah sagang tahun ini, membahana di ruang persegi hotel ternama di Pekanbaru. Nun disekitarnya, jejak-jejak budaya melepas dan terburai. Sedikit jejak itu terus digali, dicari tahu untuk penyokong jati diri.


Padahal ini tanah Melayu, tanah yang pada zamanya menelurkan sebongkah emas penyemai persebatian, menjadi lingua frangka saat berdagang, bersapa dan bermasyarakat, menggelinding menjadi sumbangan bahasa nasional Indonesia. Semua tahu, bangsa ini menaruh hati untuk ikhlas menggunakan bahasa Melayu menjadi cikal bakal bahasa Indonesia. Bahasa yang tumbuh dan berkembang di bawah dera dan tempaan kultur Melayu yang besar dan hidup di tengah masyarakat Riau. Tapi Melayu dengan tamaddun dan kejayaannya itu tidak semuanya tercerabut dalam kubangan yang dalam, bahkan masih dirasakan membeku dalam ruang-ruang kaku yang sepi.

“Persoalannya sekarang, warisan masa lalu yang inspiratif itu kini banyak yang membeku. Membeku di ruang-ruang arsip perpustakaan, museum dan tempat-tempat lain,”kata Ketua Dewan Pendiri Yayasan Sagang H Rida K Liamsi, menyampaikan kegusarannya, saat memberikan anugerah sagang.

Kata-kata itu mengguratkan risau yang menghantuk hantuk relung hati paling dalam, membongkah nasib negeri dengan budayanya yang mencangkung kesepian. Membawa diri untuk segera berubah menjadi pungguk yang membawa kedalam mimpi idaman, menasbihkan melayu menjadi tamaddun negeri yang lebih cemerlang.

Alhamdulillah, selama 14 tahun perjalanan, pemberian anugerah itu memberikan semangat bahwa budaya mampu berkukuh mengembangkan budaya. Di sini muncullah tekad untuk mencairkan kebekuan itu. Ini semacam pemakzulan, dari kata “sagang’ yang memiliki makna harfiah sebagai “penopang”.

Berawal dari asal kata, mungkin saja tak biasa mengetahui makna Sagang, kata ini merupakan Alkais yang sulit ditemukan dalam kamus Bahasa Indonesia. Mungkin juga agak langka dalam percakapan sehari-hari. Kata ini hanya dikenal masyarakat Melayu Riau di kawasan pesisir, dikenal para dengan nama sepotong kayu kecil yang digunakan penyangga bumbungan rumah di kawasan pantai. Kayu kecil itu dipasang melintang diagonal pada bentangan atap rumah. Gunanya untuk menjaga keseimbangan bila terjadi terpaan angin ribut. Masyarakat nelayan biasa menyebutnya sagang barat, karena kayu kecil itu sangat berjasa dalam meredam guncangan angin barat yang turun bagaikan ribut di kawasan pantai.

Di perahu-perahu nelayan pun, kayu kecil ini dipakai sebagai penyangga atau penyokong yang dipasang diagonal pada bentangan layar, untuk menjaga bentangan layar agar senantiasa terbuka dalam menerima tiupan angin, agar perahu melaju dan tetap kencang. Filosofinya, sagang merupakan simbol dari semangat untuk menjadi penyangga yang mendorong dan menggerakkan kreativitas budaya Melayu. Sagang adalah simbol dari semangat yang tak kenal menyerah, semangat yang tak pernah gentar, betapa pun hebat tantangan yang dihadapi.

Tahun ini harapan itu muncul dan terus bergulir, mengharapkan ia tak hanya menopang dari deraan angin badai baik di rumah atau di laut, tapi menjadi kayu untuk menabuh bunyi-buyian, menyeruak dan ramai..harapan ini bisa dilakukan, bila ada beragam tangan kreatif pula yang memanfaatkanya, menggunakannya dengan benar dan membuatnya menjadi benteng baru sebuah peradaban. (*) (ditulis dengan banyak menyadur informasi dari tulisan tentang sagang)
Lanjut Baca → Tak kan Melayu “Membeku di Musium dan Ruang Arsip”