Sang pewaris setitik dadih, makanan tradisional Kampar dan Sumbar



Es. beno (komunitas bangasbersorak)
Salah satu bukti kearifan dari tradisi leluhur yang kita sadari bagian dari budaya dan tradisi biasanya sangat bermakna. Bersentuhan langsung dengan alam sehingga berguna dan tidak merusak. Salah satu peninggalan leluhur dan dekat dengan kita saat ini adalah dalam pembuatan dadih.

Di Riau pembuatan dadih di kenal di Kabupaten Kampar, kabupaten ini tidak jauh dan bersebelahan dengan provinsi tetangga sumatera barat (sumbar). Wajar saja tradisi masyarakat setempat sedikit ada kesamaan dengan tradisi sumbar. Meski ada juga bedanya dan menjadi kontraversial sampai saat ini apakah dua daerah itu satu asal muasal.

Kontraversial itu muncul terutama soal situs kerajaan. Kalau kerajaan di sumbar tentu sering kita dengar, salah satu situs yang masih ada yakni adanya istana pagaruyung. Kerajaan Pagaruyung punya nama besar, tapi kerajaan Kampar masih banyak penelusuran, salah satunya disebutkan kerajaan tua Kuntu Darussalam di Kamparkiri, Kampar yang ditemui situs bersejarah dan masih dalam perdugaan kerajaan tertua. Belum lagi situs candi muara takus yang kabarnya juga umurnya sangat tua, mengindikasikan berbagai pertanyaan apakah Kampar berasal dari muara sendiri.

Tapi saya tidak mau berdebat dengan masalah itu, saat ini saya ingin mengenalkan makanan khas daerah yang sama di Kampar dan di Sumbar yakni dadih.

Mungkin secara tradisional makanan ini sederhana saja, susu lembu kemudian dimasukan dalam bambu tertutup dan mengental menjadi dadih. Tradisi pembuatan dadih ini masih dilakukan sebagian masyarakat, jika di Riau, salah satu daerah yang masih memproduksi dadih yakni Desa Muara Jalai, Kampar.

Kampung ini tidak jauh keberadaanya dari pusat ibukota kabupaten kampar yakni Bengkinang. Kalau mau jalan pintas bisa melewati pasar air tiris. Kami pernah ke daerah itu dua kali baik dengan mengendari motor dan mobil. Jalan bisa ditempuh dengan mudah kalau menggunakan kendaraan. Meski kampungnya sedikit berada di pedalaman, kalau dari pasar air tiris bisa ditempu dengan waktu sekitar 1 jam.

Masyarakat Kampung muara jalai umumnya berkebun. Jika menelusuri jalan jalan utama kampung, kita hanya menyaksikan pemandangan kebun karet dan sawit. Rumah rumah kampung sini bisa dikatakan cantik-cantik. Kalau dikatakan tingkat kesejahteraan masyarakat sudah sangat lumayan. Kampung boleh dalam perkebunan, tapi rumah tidak sederhana wak.



Di kampung inilah ada beberapa warga yang masih mengembangkan tradisi membuat dadi. Kami sebut mereka dengan nama sang penyelamat setitik dadih. Sebab pola masyarakat di sana, sudah tidak begitu perlu buka usaha seperti ini. Kebanyakan cukup berkebun, karena hasil berkebun tentu lumayan. Kalau membuat dadih, hanya sebagai sambilan. Tapi beberapa orang yang kami temui menyukai dan melanjutkan usaha itu semata mata untuk meneruskan tradisi dari nenek moyang.
Salah satu perempuan yang membuat dadih itu Dusun Dua Padang Tarap, Desa Muara Jalai, Kecamatan Kampar Utara, Kabupaten Kampar itu salah satunya Masnah. Ia menyebutkan hanya tinggal sekitar 6 orang yang masih meneruskan membuat dadih. Menurut ceritanya, dulu dirinya diajari ibunya yang juga berprofesi sebagai pembuat Dadih.
Saat kami temui, keluarga ini bukan main senang menerima kami. Kami sempat disuguhi makanan enak, yakni kue jalai. Padahal kami baru sekali ke kampung itu. Itulah kampung, sering menawarkan keramahan, sehingga setiap orang sering kali rindu untuk balik kampung.
Buk Masnah bercerita tentang pembuatan dadih, ia menguraikan dengan biasa biasa saja, karena saat membuat dadih bukan hal yang sulit. Sederhana saja susu dimasukkan dalam bambu yang disebut bambu tolang lalu dibiarkan. Jadikan susu itu mengental yang disebut dadih. Yang perlu dikuasai saat memerah susu kerbaiu agar keluar, kalau tekniknya dikuasai siapa saja bisa membuat dadih.
Selain masnah kami berkunjung ke rumah Rohani, dia sering dipanggil dengan sebutan Ona. Kalau nak mencari ibuk ini, sepertinya tak susah. Masyarakat banyak yang mengenal, jadi sekali sebut bisa jadi penunjuk arah rumah ibu ini berada. Kami pun merasa senang dengan ibuk ini. Orangnya ramah, suka bercerita dan tentu saja menghormati tamu. Saat kami datang, ia pun menawarkan makan serta kami pilih salah satu kesempatan untuk makan kelapa muda gratis.
”ngegererrere” sudah makan kami bercerita. Apa yang dikatakan Masnah sama dengan ibu Ona. Mereka mempertahankan dadih karena memang makanan tradisional yang sering dipesan saat saat perayaan tertentu. Mau tak mau tradisi ini terus ia lakukan.
Kenapa sejak di lead awal saya sebutkan tradisi seakan selalu bersetubuh dengan alam, dan tradisi biasanya penuh dengan kearifan? Makanan dadih misalnya, secara kekinian makanan ini sangat berguna. Kebetuhan aku mahasiswa teknologi hasil pertanian, pernah bersentuhan dengan informasi tentang dadih. Saat ini minuman dadih sudah ditemui khasiatnya untuk tubuh. Ternyata saat susu dikentalkan ada bakteri probiotik secara alami yang tumbuh. Dan bakteri ini kalau kita makan sangat berguna untuk tubuh.




Penelitian tentang makanan dadih ini sudah populer dilakukan oleh LIPI bahkan beberepa profesor luar negeri seperti di Jepang dan Singapura juga pernah melakukan penelitian tentang dadih. Di kalangan ilmuan tentang makanan probiotik, dadih juga semakin populer. Tapi nyatanya dikalangan masyarakat dan tempat muasal pengembangan dadih, nama makanan ini semakin senyap bahkan mungkin beberapa generasinya tidak mengenal lagi si dadih makanan fungsional warisan atuk atuk mereka.

Comments :

13 komentar to “Sang pewaris setitik dadih, makanan tradisional Kampar dan Sumbar”
Kojek mengatakan...
on 

wah.. jadi tambah nih pengetahuanku, thanks bro

Akhatam mengatakan...
on 

wah enaknya.....

duniaira.blogspot mengatakan...
on 

udah lama aku tau makanan ini tapi cuma dari tulisan Kapan ya bisa merasakannya langsung....

yans"dalamjeda" mengatakan...
on 

makanan tradisional seperti ini patut untuk dikembangkan, biar ga diklaim tetangga. hehe

Desi Safitri mengatakan...
on 

Nice info, pasti banyak orang Indonesia yang kurang mengenal dengan makanan tradisional yang ada di Indonesia sendiri. Maka'y kita sering kecolongan. Berguna bgt degh, kalo ada artikel kayak gini, Keep blogging :)

mutualbehavior mengatakan...
on 

wah dadih mirip ma keju ya.thanks infonya

Free Your Mind mengatakan...
on 

jadi pengen nyobain dadih lagi nih, hmm yummy, enak sob dadih itu :)

K.Senjaya mengatakan...
on 

thank bro gwe jd tmbah pengetahuan....@_^

aNtH mengatakan...
on 

sumbar yah....
salan kenal....

tukeran link yuk...

pwincess AJA mengatakan...
on 

nampak enak sekali...:)))

imus mengatakan...
on 

hikmah nya lebih menghargai makanan daerah untuk di lestarikan agar nanti nya anak cucu kita mengenal makanan daerah

Anonim mengatakan...
on 

wah mak gue masuk internet ne keren...
semoga pelestarian dadih di padang tarap tempat kampoeng ku tetap berlanjut..amien...
by khairizal

fida farhana mengatakan...
on 

mohon informasi lebih lanjut tentang pembuat dadih di sekitar Riau / Sumatera barat, karena saya sedang membutuhkan dadih asli untuk penelitian..apakah saya bisa mengontak Anda? terimakasih..

Posting Komentar