Tak kan Melayu “Membeku di Musium dan Ruang Arsip”


Es beno (bangas bersorak)


Riuh randah suara seremoni anugerah budaya, helat anugerah sagang tahun ini, membahana di ruang persegi hotel ternama di Pekanbaru. Nun disekitarnya, jejak-jejak budaya melepas dan terburai. Sedikit jejak itu terus digali, dicari tahu untuk penyokong jati diri.


Padahal ini tanah Melayu, tanah yang pada zamanya menelurkan sebongkah emas penyemai persebatian, menjadi lingua frangka saat berdagang, bersapa dan bermasyarakat, menggelinding menjadi sumbangan bahasa nasional Indonesia. Semua tahu, bangsa ini menaruh hati untuk ikhlas menggunakan bahasa Melayu menjadi cikal bakal bahasa Indonesia. Bahasa yang tumbuh dan berkembang di bawah dera dan tempaan kultur Melayu yang besar dan hidup di tengah masyarakat Riau. Tapi Melayu dengan tamaddun dan kejayaannya itu tidak semuanya tercerabut dalam kubangan yang dalam, bahkan masih dirasakan membeku dalam ruang-ruang kaku yang sepi.

“Persoalannya sekarang, warisan masa lalu yang inspiratif itu kini banyak yang membeku. Membeku di ruang-ruang arsip perpustakaan, museum dan tempat-tempat lain,”kata Ketua Dewan Pendiri Yayasan Sagang H Rida K Liamsi, menyampaikan kegusarannya, saat memberikan anugerah sagang.

Kata-kata itu mengguratkan risau yang menghantuk hantuk relung hati paling dalam, membongkah nasib negeri dengan budayanya yang mencangkung kesepian. Membawa diri untuk segera berubah menjadi pungguk yang membawa kedalam mimpi idaman, menasbihkan melayu menjadi tamaddun negeri yang lebih cemerlang.

Alhamdulillah, selama 14 tahun perjalanan, pemberian anugerah itu memberikan semangat bahwa budaya mampu berkukuh mengembangkan budaya. Di sini muncullah tekad untuk mencairkan kebekuan itu. Ini semacam pemakzulan, dari kata “sagang’ yang memiliki makna harfiah sebagai “penopang”.

Berawal dari asal kata, mungkin saja tak biasa mengetahui makna Sagang, kata ini merupakan Alkais yang sulit ditemukan dalam kamus Bahasa Indonesia. Mungkin juga agak langka dalam percakapan sehari-hari. Kata ini hanya dikenal masyarakat Melayu Riau di kawasan pesisir, dikenal para dengan nama sepotong kayu kecil yang digunakan penyangga bumbungan rumah di kawasan pantai. Kayu kecil itu dipasang melintang diagonal pada bentangan atap rumah. Gunanya untuk menjaga keseimbangan bila terjadi terpaan angin ribut. Masyarakat nelayan biasa menyebutnya sagang barat, karena kayu kecil itu sangat berjasa dalam meredam guncangan angin barat yang turun bagaikan ribut di kawasan pantai.

Di perahu-perahu nelayan pun, kayu kecil ini dipakai sebagai penyangga atau penyokong yang dipasang diagonal pada bentangan layar, untuk menjaga bentangan layar agar senantiasa terbuka dalam menerima tiupan angin, agar perahu melaju dan tetap kencang. Filosofinya, sagang merupakan simbol dari semangat untuk menjadi penyangga yang mendorong dan menggerakkan kreativitas budaya Melayu. Sagang adalah simbol dari semangat yang tak kenal menyerah, semangat yang tak pernah gentar, betapa pun hebat tantangan yang dihadapi.

Tahun ini harapan itu muncul dan terus bergulir, mengharapkan ia tak hanya menopang dari deraan angin badai baik di rumah atau di laut, tapi menjadi kayu untuk menabuh bunyi-buyian, menyeruak dan ramai..harapan ini bisa dilakukan, bila ada beragam tangan kreatif pula yang memanfaatkanya, menggunakannya dengan benar dan membuatnya menjadi benteng baru sebuah peradaban. (*) (ditulis dengan banyak menyadur informasi dari tulisan tentang sagang)

Comments :

5 komentar to “Tak kan Melayu “Membeku di Musium dan Ruang Arsip””
Laskar Madura mengatakan...
on 

sip banget bos...
keep posting !!!

udin ads mengatakan...
on 

mantap

The SUNRISE mengatakan...
on 

mantap sob . . dalam banget makna nya . .

gratisan mengatakan...
on 

keren sob... maju terus pantang mundar hehe

bhogey mengatakan...
on 

satra broo...
lanjutkan budaya, jangan biarkan membeku.

Posting Komentar