”Tak kan Patah” Istana Sayap Pelalawan


(esbeno, Bangasbersorak)

”Yang serai ada rumpunnya
Yang sungai ada guguknya
Yang keris ada hulunya
Yan tombak ada gagangnya
Yang rumah ada tuannya
Yang kampong ada penghulunya
Yang negeri ada rajanya”(CATATAN Tennas Efendy)

Ungkapan petuah Melayu diatas perlu dibuktikan, tapi untuk menelisik puing puing kerajaan di Riau memang agak sukar, sebab beberapa situs kerajaan tua sudah raib beserta peninggalan sejarahnya, baik semacam situs atau riwayat kerajaan. Tinggalkan kisah kerajaan tersisa pada kepingan-kepingan, yang sedikit ini perlu ditelusuri kembali.


Begitu juga kisah Kerajaan Pelalawan, istana asli kerajaan sudah tidak ada, alhamdulillah pemerintah setempat (Pemda Pelalawan) merekontruksi kembali. Istana ini kembali ada, mengisyaratkan kemashuran kerajaan terdahulu tidak bisa terendam selamanya.

Istana kerajaan Pelalawan yang tersohor dalam sebuah tulisan disebut dengan nama Istana Sayap. Istana ini dalam hikayatnya ditasbihkan oleh Sultan Pelalawan ke 29, yakni Tengku Sentol Said Ali. Ketika memimpin, ia berazam memindahkan pusat kerajaan dari Sungai Rasau (Anak Sungai Kampar) ke muara ujung Pantai. Tapi sebelum istana selesai, ia terlebih dahulu meninggal, karena itu ia diberi gelar Marhum Mangkat di Balai.

Tapi niat mendirikan Istana Sayap tetap dilanjutkan Sultan Syarif Hasyim II. Ketika ia bertahta, ia menggubah istana yang belum selesai dengan dengan membangun dua sayap baik disamping kanan dan kiri istana sebagai balai. Maka sejak itu istana ini disebut dengan Istana Sayap. Pendirian istana ini menjadi filosofi dan mengakar di masyarakat setempat , saat mendirikan rumah, secara adat mensyartakan ada bangunan induk dan bangunan anak.

Jadi Sultan Syarif Hasim II lah raja pertama Pelalawan yang bermastautin di Istana Sayap, jasanya ini membuat ia mendapat gelar Marhum Kampar II. Namanya disejajarkan dengan Sultan Kampar I yang merupakan Sultan Mahmud Syah I Sultan Malaka yang mangkat di Pakantua, Kampar. Sejak saat itu resmilah desa yang kini disebut Desa Pelalawan yang menjadi pusat kerajaan Pelalawan. Disinilah riwayat kerajaan Pelalawan sampai akhir, dibawah kepimpinan Syarif Harun.

Riwayat Kerajaan Pelalawan sangat panjang. Kerajaan ini juga tidak terlepas dari hikayat negeri negeri Melayu tersohor seperti Melaka, Temasek dan Siak Sriindrapura. Awalnya kerajaan Pelalawan berdiri di Pekantua, kemudian pindah ke Sungai Tolam, lalu pindah di Sungai Rasau dan baru menetap di Pelalawan.

Saat di Pakantua, kerajaan didirikan oleh Maharaja Indera. Beliau disebutkan sebagai bekas orang besar Kerajaan Temasik, serumpun Melayu yang pisah dari Johor dan menjadi negara Singapura.

Kala itu Kerajaan Temasik dikalahkan Majapahit, saat itu kerajaan Temasik dipimpin Permaisura (Prameswara ) ia mengundurkan diri ketanah semenanjung mendirikan kerajaan Malaka. Sedangkan Maharaja Indera membangun kerajaan Pekantua di Sungai Pekantua.

Tapi setelah kejaaan Melayu kembali pulih di Melaka, sebuah riwayat menceritakan Pakantua ini kemudian diserang Melaka, sehingga kekuasaan langsung diambil alih oleh Sultan Melaka. Pakantua ditasbihkan menjadi Pekantua Kampar.

Tapi setelah berselang puluhan tahun kemudian, kerajaan Malaka malah menuai masalah sebab diserang Portugis, sehingga posisi sultan mendapat ancaman. Pada saat yang kemelut itu, Sultan Mahmud Syah I dinobatkan menjadi Raja Pekantua Kampar. Ketia mangkat beliau diberi gelar Marhum Kampar.

Tapi dalam perjalanan sejarah salah satu pewaris Kerajaan Pakantua kampar meninggakan kerajaan dan pindah menuju Tanah Semananjung untuk mendirikan Negeri Kuala Johor. Kala itu dibawah kepemimpinan Sultan Alauddin Riayat Syah II, ia pun disebut sebagai pendiri Kerajaan Johor. Tapi saat meninggalkan Pekantua, beliau menunjuk dan mengangkat Mangkubumi Pekantua yakni Tun Perkasa sebagai raja muda.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, ada sebuah persebatian beberapa kerajaan Melayu, demikian dengan kerajaan Pelalawan. Setelah berdiri kerajaan Johor terjadi kemelut antara dikerajaan dan ini juga memunca konflik berdirinya kerajaan kecik Siak Sriindrapura. Memang beragam fersi sejarah yang muncul, tapi para pencatat silsilah sepakat mengakui ada persebatian antara kerajaan Johor Siak dan Pelalawan.

Tapi soal pertikaian antara beberapa kerajaan dibuktikan dengan silsilah kerajaan itu. Sejarah Pelawalan menukilkan terjadi penyerangan pula dari kerajaan Siaksriindrapura ke Pelalawan, perang saudara ini terjadi di benteng Mempusun, benteng dan bekas perperangan sampai saat ini masih ada, sekarang menjadi musium. (Lain kesempatan akan kami tuliskan sedikit tentang Mempusun) ini, setelah Pelalawan takluk dibawah kerajaan Siak berubah pulalan penguasa kerajaan, dan pencatat sejarah menukilkan sejak pertempuran itu pimpinan Pelalawan langsung beralih ke silsilah Sultan Said Abdurrahman berketurunan Siak sampai masa habisnya kerajaan. (*)

Comments :

7 komentar to “”Tak kan Patah” Istana Sayap Pelalawan”
ais mengatakan...
on 

maju terus Pelalawan...

Central004 mengatakan...
on 

Cerita yang menarik sob..

Anonim mengatakan...
on 

Coba mengambil hikmah dari cerita menarik ini

Akhatam mengatakan...
on 

Menarik ceritanya... sukses yah...

Nina Dyanti mengatakan...
on 

Ku ko g paham dengan ceritanya ya????he he he salam kenal deh buat yang punya blog,thanks visitnya ya

attayaya mengatakan...
on 

wah lengkap sekali cerita sejarahnya

Blog Kang Robby mengatakan...
on 

Majuterus pelalawan..... pelalawan berpotensi untuk lebih maju dan bersaing... hidup pelalawan...

jangan lupa kunjungi juga blogku http://bro-robbie.blogspot.com

Posting Komentar